This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 27 September 2017

Indonesia 1/2 Merdeka

Indonesia 1/2 Merdeka

Kemerdekaan Indonesia telah banyak mengalami adaptasi bergantung situasi dan kondisi yang terjadi di Indonesia. Merdeka awal mulanya dipopulerkan oleh para pahlawan kita dalam menghadapi penjajahan, baik penjajahan Belanda, Jepang, dan sekutu-sekutunya. Merdeka tidak semerta lahir begitu saja dalam suasana yang santai dengan sacangkir kopi dan sebatang rokok dalam sebuah diskusi, seperti kebiasaan aktivis dan para tokoh lainnya. Namun, ia lahir dari sebuah ledakan semangat dalam kondisi menghadapi dua pilihan di medan perang, hidup atau mati.

Kemudian kata itu dideklarasikan oleh sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno, pada saat membacakan teks kemerdekaan Republik Indonesia. Kata merdeka yang dikobarkan dengan semangat itu hanya ingin menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk menjadi negara yang berdaulat, karena pada saat yang bersamaan para penjajah masih berkeliaran di Indonesia. Dengan kata merdeka itu menjadi semacam kata kunci untuk tetap menjaga kedaulatan,  dan kedamaian Indonesia; menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.

Seandainya Indonesia tidak segara memroklamirkan kemerdekaannya, maka mental merdeka rakyat Indonesia, dan mental penjajah Belanda masih sama. Rakyat Indonesia masih merasa belum merdeka dan penjajah masih merasa menguasai Indonesia. Sebait kata, dalam teks kemerdekaan itu yang betul-betul mengantarkan Indonesia dalam kemerdekaannya. Dengan berani mengatakan bahwa Indonesia harus bebas dari segala bentuk penindasan yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan.

Penjajahan dalam bentuk perang fisik sudah berakhir. Mari, kita bersama mengucapkan "terima kasih" kepada para pahlawan kita yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan kita. Kenapa kita? Sebab, kitalah yang hari ini sedang menikmati hasil jerih payah para pahlawan itu. Perang fisik sudah selesai, sehingga kita harus banyak bersyukur atas limpahan rahmatNya.

Namun, masih banyak perang yang harus kita hadapi dengan semangat merdeka seperti yang telah dilakukan para pendahulu kita. Semua itu masuk dalam dua poin besar: pertama, perang pemikiran dengan orang non-Indonesia; kedua, perang mental dengan pejabat Indonesia. Perang pemikiran dimaksud adalah bagaimana orang luar mencekoki rakyat Indonesia dengan produk pemikiran mereka. Produk pemikiran mereka adalah, bahwa Indonesia dapat dihancurkan dengan budaya bebas seperti budaya mereka. Bebas menjadi pecandu obat terlarang, bebas melakukan seks bebas, bebas berpakaian, bebas bersaing secara ekonomi, dan lain sebagainy. Dengan begitu, apabila bangsa kita betul-betul mengikuti arus pemikiran yang mereka cekoki, maka tunggulah kehancuran Indonesia.

Berikutnya, memerangi mental pejabat Indonesia. Mental pejabat yang dimaksud adalah mental korupsi yang sudah menjadi bagian dari Indonesia. Mental korupsi di Indonesia ini sudah mendarah daging dan sudah memutuskan urat malu para pejabat. Dikatakan putus urat malunya, sebab ketika mereka sedang kedapatan dan tertangkap melakukan perbuatan yang dianggap sebagai kejahatan luar biasa untuk diperangi itu, pejabat kita masih bisa tebar pesona dengan senyum yang menawan. "Jhe' pas etapogheh ngara colo'en," itu kata seorang teman.

Mental poligami juga cenderung menjadi penyakit bagi pejabat kita. Ups, poligami sebenarnya tidak termasuk penyakit mental. Masih relatif dan debatebel di masyarakat kita. Tetapi, budaya kita masih melihat poligami sebagai budaya yang masih tabu. Dan urusan poligami saya pasrahkan kepada yang lebih kompeten dalam urusan poligami ini. Seperti yang sempat diopinikan mau diperdakan itu.

Sebenarnya memerangi korupsi pejabat kita, sama dengan memerangi kemiskinan. Kemiskinan berbanding lurus dengan tingkat korupsi para pejabat. Seandainya tidak ada korupsi, maka tidak ada kemiskinan di Indonesia. Mari, perangi segala bentuk penyimpangan yang ada di negara tercinta ini, untuk mencapai kemerdekaan sejati, kemerdekaan yang tidak hanya berada di atas kertas dan baleho-baleho yang besar.

Merdeka!

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 18 Agustus 2017

Perdagangan Manusia dan Iklan Gratis

Perdagangan Manusia dan Iklan Gratis

Tidak hanya makanan, mainan, perabotan yang banyak ditemukan dijual di mana-mana; pun manusia juga tidak lepas dari perdagangan bebas. Di jalanan, di media sosial, di pengajian, di trotoar, di warung, bahkan di WC sekalipun. Jangan salah, ini bukan penjualan manusia di bawah umur, tapi penjualan manusia cukup umur. Manusia yang sudah biasa kencing berdiri dan bahkan berlari.

Ada penjual, ada juga promotor, termasuk penerima layanan iklan gratis. Penerima iklan gratis ini adalah orang yang melibatkan diri dalam keadaan yang sesungguhnya dia tidak sedang dibutuhkan. Sekali pun dia termasuk orang yang tidak dibutuhkan, tetapi loyalitasnya mengalahkan bos copet, dan mempunyai militansi yang cukup tinggi. Kira-kira seperti militer-lah. Tahan cobaan, ujian dan rintangan, mengalahkan kera sakti (baca: Sun Gwo Kuong). Hihihi  

Semisal, setiap kali buka facebook dia posting dagangannya dalam bentuk wajah manusia, kemudian disampaikan bahwa dagangannya itu adalah yang terbaik. Entah, kapan ujiannya. Kemudian mati-matian membela bila ada yang mencela; beda pendapat dihujani dengan penghakiman yang luar biasa. Tidak segan untuk menjustifikasi orang; memberikan label orang. Label yang biasa diberikan adalah liberal, atau kalau tidak, kafir. Waw, takut!

Tidak cukup sampai di situ, pengiklan gratis ini tidak segan untuk menjatuhkan dagangan orang lain. Dengan cara mencela, menghina, menebar fitnah dan lain-lain. Tapi untung, konsumen hari ini sudah cukup cerdas, kalau pun didengarkan paling hanya ingin memastikan, apakah tukang iklan gratis itu 'baik-baik saja' atau mulai kurang waras. Ia, betul, mana ada jasa promosi tidak dibayar, mau saja kerja siang malam. Kecuali... Ah, sudahlah!

Nah, tukang iklan gratis ini kadang suka tidak nyambung. Yang dijual siapa dan yang membutuhkan siapa, seringkali tidak tahu, bahkan tidak tahu tempat. Kadang juga tidak tahu bahwa dia sedang dimanfaatkan dan sedang ditertawakan banyak orang. Pengiklan gratis ini sering menjual produk di tempat dimana tidak ada orang yang membutuhkan produk itu. Entah apa cita-citanya, saya sendiri tidak paham. Padahal menurut saya lebih manfaat, buka kitab dan baca di depan banyak orang. Damaikanlah hati orang dengan tusiah-tausiah ala Imam Atha'illah as-Sakandari.

Pengiklan gratis ini yang penting dapat 'suka' dan beberapa komentar, dia ini sudah senang luar biasa. Kalau dapat dukungan tentang iklannya, ia bahagia. Tetapi pendukungnya memang tidak jauh berbeda.

Tulisan menjelang tidur dengan tokoh misterius.

Pamekasan, 25 Agustus 2016

Selasa, 26 September 2017

Instrospeksi Diri

Instrospeksi Diri

Pasca OTT KPK di Pamekasan, muncul banyak asumsi dan perbincangan di mana-mana. Baik di dunia nyata, pun dunia maya. Di warung kopi, di toko baju, di trotoar jalan, di kantor tempat bekerja, di sawah, di gudang, dan bahkan hampir di semua lini. Dunia maya pun tidak kalah ramai, di facebook misalnya, tidak kalah ramai dari pasar, karena hampir setiap orang bisa nimbrung dalam perspektif masing-masing. Tanpa dibatasi tandeng aling-aling.

Semua orang ikut berkomentar dalam bangunan perspektif mereka masing-masing. Mulai dari para politisi, birokrasi, akademisi, nelayan, petani, pedagang dan lain-lain. Ada yang cenderung bijaksana ada pula yang biasa dan bahkan ada yang sinis. Tetapi secara umum tetap menilai bahwa perbuatan korupsi atau memaling itu tidak baik, dan menjadi buah bibir yang kurang sedap. Meski kebanyakan yang teriak maling tidak menutup kemungkinan juga maling meski dalam skala yang lebih sempit.

Maling teriak maling. Begitulah yang seringkali terjadi di sekitar kita. Kalau kita mendapat bagian, dia bukan maling; namun bila kita tidak dapat bagian, maka dia adalah maling. Tetapi ada juga manusia yang maling tetapi ikut teriak maling pada yang lainnya. Sepertinya bangsa Indonesia (secara umum) ini memang berkarakter maling sejak dalam pikiran. Hanya kesempatan saja yang berbeda.

Iya, dalam kondisi tertentu, kita juga bisa menjadi maling. Entah kenapa sebab. Saya lebih melihat bahwa mental kita (bangsa Indonesia) ini adalah mental maling. Hanya belum punya kesempatan saja untuk memaling, sehingga kita tidak memaling. Kita bisa saja introspeksi diri pada saat kita mendapatkan kepercayaan. Kalau masih memungkinkan untuk memaling kita cenderung maling. So, sesama maling, mari, jangan terlalu lantang berteriak maling.

Saya mendapatkan informasi dari salah seorang teman yang punya tetangga menjadi anggota program pemberdayaan dari pemerintah. Tetangga dimaksud mendapatkan bantuan Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) persekian bulan (entah berapa bulan sekali) dari pemerintah. Namun setiap kali bantuan keluar selalu terpotong sebanyak Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah). Sebenarnya bantuan tersebut masuk kepada rekening masing-masing, karena program pemerintah itu menggunakan rekening, tetapi anggota program dimaksud mempunyai pendamping yang biasa mengakomodir pengambilan bantuan itu. Ketika ditanyakan kepada pendampingnya, katanya ada pada saldo tabungan, tetapi slip penarikan dari ATM menunjukkan bersisa nol rupiah. Ah! (Untuk kelanjutan ceritanya, bisa saja sudah diselesaikan).

Kasus lain yang biasa terjadi di dunia akademis semisal menjelang tugas akhir bagi mahasiswa. Ada oknum dari perguruan tinggi yang cenderung menjualbelikan tugas akhir (skripsi) kepada mahasiswa yang dianggap kurang mampu membuat. Bukan memaksimalkan pelajaran cara penulisan tugas akhir secara baik, tetapi menyodorkan langkah yang sesungguhnya dekonstruktif bagi perkembangan karakter mahasiswa, yakni membeli yang sudah jadi. Kasihan sekali mahasiswa yang seperti itu ya. Itu contoh kecil saja, belum termasuk fee proyek yang sampai 15% atau mungkin lebih.

Mental kita sebagai bangsa memang cenderung tidak adil kepada orang lain sejak dalam pikiran. Selalu ingin melihat orang lain menjadi orang yang bersalah di mata kita dan yang lain, tanpa berusaha melihat dan bertanya ke dalam diri kita, cukup bersihkah diri kita sehingga harus menjustifikasi orang lain sedemikian rupa.

Perilaku seperti itu sebenarnya tidak berdiri sendiri. Ia kadang dibawa oleh kecenderungan kelompok tertentu. Kebiasaan salah yang mendapatkan legitimasi secara sosial akan dianggap sebagai sebuah kebenaran. Atau kesalahan yang diulang-ulang tanpa ada teguran sosial juga akan dianggap sebagai kebenaran pula. Ketidakbenaran yang dibiasakan akan menular kepada kita secara tidak kita sadari; bahwa tiba-tiba kita berada di ruang yang salah.

Seperti yang kita tahu, berapa banyak orang yang menjadi tidak baik tanpa mereka sadari hanya karena selalu dicekoki dengan berita hoax seperti group saracen yang beberapa minggu terakhir terungkap. Dan bahkan sebagian orang masih kerasan dalam kondisi seperti itu, kondisi di mana penjelasan sudah ada di depan mata untuk dipahami tentang ketidakbenaran sebuah berita, tetapi memaksa bertahan dalam kebenaran hoax.

Memang baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang baik. Maka dari itu, bertemanlah dengan orang-orang yang baik.

Wallahu a'lam!

Sampang, 27 Agustus 2017

Bukan Politisi Wacana tapi Politisi Pengabdi

Saya tertarik membincang tokoh yang satu ini. Di tengah kontestasi politik yang kian memanas dan mendekati klimaks, beliau tidak selesai dengan orang lain, yakni orang yang selama ini lepas dari perhatian banyak orang termasuk pemerintah. Membantu meringankan beban orang lain sepertinya sudah menjadi tabiat yang melekat pada dirinya. Tidak pandang bulu dalam membantu. Menyisir kelokan gang untuk menjumpai orang dengan warisan keterbatasan dalam dirinya.

Semula saya berpikir bahwa yang beliau lakukan adalah bagian dari pencitraan. Maklum, karena akhir-akhir ini memang sedang trend dan musim gaya seperti itu. Sehingga wajar dong kalau saya harus mencurigai adanya trend itu masuk dan menyelinap ke dalam hati semua politisi tanpa pandang bulu. Lagian pula bulu siapa yang akan jadi tontonan gratis. Owh, tidak bisa!

Lambat laun saya mulai berpikir, tentang bagaimana dalam kondisi tertentu manusia akan sampai pada titik jenuh apabila sesuatu yang dilakukan tidak selaras dengan suara hati. Bila sampai pada titik jenuh, maka apa yang dilakukan dari awal tidak akan sama dengan apa yang dilakukan berikutnya. Sebagai contoh, Anis Baswedan misalnya, pada saat berkampanye dia menyisir lorong-lorong untuk menyapa masyarakat, bagian sudah jadi, lorong-lorong pun ditutup rapat.

Dan manusia yang satu ini memang tidak ada lelahnya untuk menghibahkan dirinya pada orang lain. Mana mungkin pencitraan akan bertahan selama itu. Anggap saja seperti Presiden kita Jokowi, yang dianggap pencitraan oleh sebagian orang karena blusukan yang beliau lakukan, ternyata blusukan itu sudah menjadi bagian dari gaya hidupnya dan menguasai tulang sumsum. Sehingga tidak ada istilah capai, bagi yang tidak terbiasa melakukan interaksi ke bawah, dengan nada nyinyir mengatakan, "Ah, itu pencitraan". Asu-dahlah!

Dalam bursa politik hari ini tidak melihat ada nama beliau. Menurut saya, beliau adalah manusia yang sering bercermin dan pandai mengukur diri. Siapa yang tidak suka untuk menjadi bagian dalam kontestasi Pilkada bagi orang yang sudah manjalani beberapa tangga? Tapi bagi orang yang sadar diri dan merasa belum saatnya, maka lebih baik mengabdi dulu sebanyak-banyaknya pada masyarakat. Persoalan masyarakat sendiri yang menginginkan, kenapa tidak. Saat ini memang belum panggungnya beliau. Apa lagi yang lain.

Saya merasa harus angkat topi, meski sebenarnya tidak punya topi. Bahasa lain dari sebuah apresiasi yang sebesar-besarnya kepada beliau atas banyak hal yang sudah dilakukan. Yang turut merasa bersyukur atas kebenaran pilihan masyarakat sehingga beliau bisa menduduki jabatan yang memungkinkan lebih banyak membantu orang lain. Sebab, banyak orang dalam posisi yang sama, namun masih belum jelas kontribusinya.

Teruslah berkarya, meski bukan menjadi bagian dari golongan karya. Kebangkitan bangsa ada pada orang-orang seperti anda. Politik pengabdian adalah cara paling etis untuk mengantarkan pada puncak kekuasaan; dan puncak kekuasaan itu sendiri adalah pengabdian yang seluas-luasnya.

Akhirnya, semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan dan karunia untuk banyak hal yang telah dilakukan. Amin.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 20 September 2017

Jangan Manfaatkan Rohingya untuk Mencari Kambing Hitam

Ada sebagian manusia yang selalu ingin memosisikan manusia lain dalam posisi bersalah. Bahkan dalam sebuah kondisi dimana orang lain itu tidak ada sangkut pautnya dengan hal tersebut.  Seperti konflik yang berada di area luar Indonesia; ada sebagian orang yang berusaha menyeret dan mengkambinghitamkan, mengait-ngaitkan dengan tokoh-tokoh Indonesia yang sesungguhnya tidak ada kaitan dalam kejadian itu.

Taruhlah, tragedi yang terjadi di Myanmar. Ada sebagian orang yang merasa paling peduli pada saat dirinya sesungguhnya sedang diam; sedang dalam keadaan tidak melakukan sesuatu apapun untuk membantu mereka. Orang-orang ini berusaha mencari objek sebagai bidikan kebersalahan dalam peristiwa yang tidak ada kaitan dengan orang, kelompok, organisasi, apapun yang ada di Indonesia.

Dalam tragedi Myanmar. Siapa yang tidak peduli? Hampir semua orang dengan suara koor mengatakan prihatin. Namun, ada pihak yang berusaha memosisikan pihak lain sebagai pihak yang tidak peduli Rohingya. Jangan Manfaatkan Rohingya untuk Mencari Kambing Hitam, kita semua peduli.

Sempat-sempatnya dalam kejadian ini, masih ada pihak yang membawa kepentingan, sebagai upaya mengukuhkan dirinya berada dipihak yang selalu benar. Sehingga, orang lain dalam posisi salah.

Orang-orang semacam ini memang tidak bisa melihat orang lain tenang. Selalu diusik dengan segala cara, termasuk memosisikan pihak lain sebagai orang yang tidak peduli terhadap penderitaan orang lain. Padahal, orang ini hanya sedang mencari panggung, karena dirinya sendiri sebenarnya tidak berbuat apapun untuk membantu etnis Rohingya di Myanmar.

Tidak ada pihak lain yang bersalah di luar kejadian itu, sehingga kutukan dan makian tidak harus nyasar ke mana-mana, apa lagi menyasar pemerintah atau organisasi apapun yang berada di lain tempat. Biar keadaan tidak tambah runyam dan aneh. Kalau mau mengutuk perbuatan itu, mari, lakukan bersama, tetapi jangan mengutuk sesama pengutuk.

Tidak ada toleransi bagi kejahatan kemanusiaan. Kita umat manusia mempunyai kewajiban untuk melestarikan spesies yang namanya manusia ini dari kepunahan. Upaya pemusnahan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab adalah musuh bersama, bukan musuh segelintir orang.

Jadi, bagi pihak yang belum bisa move on dalam sebuah peristiwa tertentu, carilah momen yang tepat untuk mengkambinghitamkan pihak lain, tetapi jangan tragedi kemanusiaan yang dimanfaatkan. Belum lagi, kita tahu bahwa semua orang peduli dengan kejadian itu.

Saya hanya bisa berdoa, semoga manusia-manusia yang ada di Rohingya diberikan ketabahan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Amin

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 03 September 2017

Uang Saku dan Pendatang Baru dalam Kontestasi Politik

Suatu ketika saya membantu tetangga yang hendak melangsungkan perayaan mantenan anaknya. Entah, kenapa tiba-tiba mata saya tertuju kepada orang yang sedang memasang hiasan pada langit-langit rumahnya. Ia memasang kertas krep yang dipotong memanjang dan dipaku dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Begitu bersemangat ia memaku kertas yang agak dilipat ujungnya itu pada kayu bagian atas rumah. Butuh beberapa pukulan untuk menancapkan paku dan melekatkan hiasan dari kertas krep itu.

Sebentar lagi beberapa daerah akan melangsungkan pemilihan kepala daerah. Hal ini dimaksudkan untuk memilih pemimpin yang baru, karena pemimpin yang lama sudah mencapai masa tenggang. Dalam hal ini komisi pemilihan umum (KPU) sudah mulai sosialisasi guna menyukseskan kegiatan dimaksud. Tapi untuk komisioner KPU tidak perlu khawatir, optimis sukses. Sebab, dalam rangka menyukseskan Pilkada, anda akan dibantu oleh team sukses masing-masing kandidat.

Sederhananya, yang paling memotivasi tingkat kehadiran pemilih adalah adanya uang saku bagi mereka. Bayangkan saja, mereka hanya butuh persekian detik untuk melubangi kertas dan diberi uang saku setara dengan membajak sawah setengah hari. Masih lebih berat orang yang memasang hiasan kertas krep tadi; butuh tiga sampai lima pukulan dengan palu dan tenaga yang lumayan kuat. Jadi, untuk tingkat kehadiran pemilih, komisioner pemilihan umum tidak perlu khawatir.

Dalam hal politik, Pamekasan saat ini memang sampai pada momennya. Karena sebentar lagi kota dengan ikon gerbang salam ini akan melaksanakan kontestasi kepala daerah. Saat ini sebagian orang sudah mulai memosisikan diri dan melakukan analisa semampunya. Jangankan para politisi yang memang mengerti pada persoalan politik, bahkan orang-orang di kampung pun juga turut serta melakukan kalkulasi-kalkulasi politik.

Yang paling menarik, atas nama kebocoran demokrasi adalah munculnya beberapa figur-figur baru yang berusaha adu keberuntungan. Tapi, sebelum mengadu keberuntungan dalam kontes calon kepala daerah, mereka masih harus mencoba keberuntungan untuk mendapatkan rekomendasi dari partai sebagai bakal calon yang dianggap layak mengikuti kontestasi. Maklum, di antara mereka bukan kader partai dan tidak pernah membesarkan partai. Dan sangat mungkin, pendatang baru ini sangat minim pengalaman dalam urusan politik. Tapi, namanya mencoba, siapa saja boleh.

Modal utama bagi orang yang bergerak dalam dunia politik adalah ilmu politik. Jangan gunakan jargon "petani" untuk mempengaruhi massa. Sebab, seseorang yang hendak berkecimpung dalam dunia politik harus syarat dengan pengalaman, politikus harus mempunyai jaringan ke atas dan ke bawah. Tidak cukup interaksi yang kita lakukan hanya ke bawah, butuh kerjasama ke atas yang memungkinkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam segala bidang. Bagi para petani, bertanilah; para guru, mengajarlah; para politisi, saatnya anda sambung otak untuk meloloskan diri atau orang yang anda anggap bisa.

Mari, hindari kontestasi politik di Pamekasan ini dari ajang main-main. Kita harus betul-betul mencari tokoh yang betul-betul tokoh, bukan memunculkan figur yang bukan tokoh yang kemudian ditokoh-tokohkan, apalagi menokohkan diri. Kata orang Madura, "Tadek kaber abuduk lajhing". Tapi akhirnya, pilihan ada pada diri kita masing-masing. Yang paling penting adalah jaga kondusifitas Pamekasan. Datangi TPS-TPS untuk menggunakan hak suara. Sukseskan pesta demokrasi yang hanya lima tahun sekali ini dengan penuh rasa bertanggung jawab. Pamekasan ke depan ada di tangan kita, karena siapapun yang terpilih mereka kepanjangan tangan dari kita.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 17 September 2017

Film G30S/PKI sebagai Alat Keributan

Di negara-Indonesia-ini memang tidak boleh ada apa-apa. Sebab, di sini orangnya masih kagetan dan sangat reaktif. Tidak boleh ada yang berbeda, karena perbedaan akan memicu keributan. Maunya semua orang harus sama, kalau yang satu "A" yang lainnya juga "A". Kalau satu bodoh, lainnya juga harus goblok.

Di negara ini, selama tidak menemukan pemahaman yang sama, maka selama itu pula perdebatan akan berlangsung. Pastinya alot, penuh fitnah dan caci maki. Tidak tanggung, caci-makinya sampai ke ibu kandung dan nenek moyangnya. Mulai dari ibunya bukan ibu kandungnya sampai ibunya jadi pelacur.

Sepertinya mental penjajah Belanda tanpa disadari merasuki bangsa ini. Bila ada yang tidak sama dengan dirinya berarti harus salah dan diintimidasi. Dan menjadi musuh yang paling nyata. Seperti setan saja, musuh paling nyata.

Sejak beberapa tahun terakhir di sini sudah tidak ada kedamaian. Beda pilihan Presiden, ribut; beda dukungan Gubernur, ribut; ada tragedi di negara lain, Indonesia yang ribut; yang terakhir urusan nonton dan tidak nonton film Gerakan 30 September PKI, juga ribut. Sehingga dengan keributan itu, sangat sering bangsa Indonesia ini terposisikan dalam pro dan kontra.

Kelihatannya kalau ditarik lebih jauh lagi, masalah pro dan kontra ini akan merujuk kepada keberpihakan kontestan pilpres 2014, antara Prabowo dan Presiden Joko Widodo. Hal ini yang melahirkan pro dan kontra yang berkepanjangan dalam banyak hal, dan pesimis akan berakhir. Dan orang-orang yang sedari awal terposisikan pro dan kontra dalam berbagai hal, ujung-ujungnya tetap mencari induknya. Apakah induknya dalam keadaan pro atau kontra. Kalau induknya pro akan ikut, atau sebaliknya.

Nonton atau tidak nonton film itu apa hebatnya coba. Apa lagi ada penjelasan bahwa film itu penuh dengan kepalsuan. Bisa-bisanya suka dengan sesuatu yang palsu. Kalau tidak tahu kalau palsu, bisa maklum kita meminati tentang sesuatu itu. Nah, ini sudah disampaikan sesuatu itu palsu, tapi tetap saja kerasan tinggal dalam kepalsuan. Tapi sudahlah, bangsa ini memang suka dengan kepalsuan.

Sejarah itu merupakan sesuatu yang ilmiah dan bisa ditelusuri kebenarannya, jadi kalau pengaburan sejarah dibiarkan sama saja dengan mau mengatakan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang bodoh. Sejarah adalah sesuatu yang sudah terjadi, dan semua orang bisa membuktikan kebenarannya.

Untuk urusan nonton, saya sangat suka menonton film G30S/PKI itu. Namun sejak dinyatakan penuh dengan kebohongan, saya tidak tertarik lagi untuk menonton. Anehnya, inisiatif pemerintah untuk meluruskan sejarah PKI bukannya diapresiasi, malah dijadikan alat untuk menyudutkan pemerintah. Betul toh apa yang saya katakan? Ending dari semua ini adalah Bapak Presiden harus salah.

Ayolah, bangsa ini jangan mau diobok-obok oleh orang yang berkepentingan. Kepentingan politik sudah sangat kentara mempengaruhi pola pikir kita, sampai-sampai kita mau menjadi kepanjangan mulut dari para politikus yang tidak bertanggung jawab di sana.

Wallahu a'lam!

Sampang, 22 September 2017