This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 08 Januari 2018

Ternyata Presiden Kita Juga NU

Ternyata Presiden Kita Juga NU

Saya termasuk pendukung Jokowi, tapi saya berusaha belajar Objektif. Kalau semisal saya tidak setuju dengan kebijakan beliau menaikkan harga BBM, saya utarakan saja. Mungkin Anda akan bertanya, kenapa tidak diselatankan saja? Harusnya, pertanyaannya bukan itu. Tetapi kenapa saya tidak mendukung? Baik, saya akan menjawab dengan sangat gamblang, segamblang silet. Nah, lo, salah lagi kan?

Jadi begini, kalau biasanya saya isi BBM satu kali dengan harga tertentu, bisa beberapa kali pergi ke rumah mertua; setelah harga BBM naik, saya harus beli dua kali dengan ketentuan yang sama. Sudah nyata kan perbedaannya. Itu alasan saya tidak setuju, dan mungkin saudara sekalian. Tapi akhirnya setuju, atau setuju sama saja, BBM tetap naik. Kalau demikian adanya saya pasrah saja, yang penting Bapak Presiden punya Kartu Tanda Anggota NU (Karta-NU), itu sudah lebih dari cukup. Berarti bapak Jokowi sama dengan saya. Hidup NU!

Memang NU pilihan yang tepat pak. Anda akan mendapatkan kedamaian, kesejukan, ketenangan, ketenteraman dan lain-lain. Tapi saya curiga sama bapak, kenapa masuk NU, apa bapak punya modus, atau ikut-ikutan wakil bapak. Ah, itu urusan bapak, yang penting NU dululah. Orang sekelas Presiden tidak mungkin tanpa perhitungan yang matang. Seratus buat Bapak Presiden.

Lho, iya ya. Saya kok baru sadar kalau orang nomor satu dan nomor dua di Negara ini adalah orang NU. Atau mungkin beberapa Menterinya. Saya yakin juga kalau orang ketiganya juga NU. Ups, kok pakai orang ketiga. Maksudnya, adalah orang yang dekat-dekat Bapak Presiden. Biar tidak salah paham.

Lantas, siapa yang kemudian akan menyangsikan kebesaran NU. Kalau satu, dua, sampai tiga adalah NU. Dan kita-kita juga NU. Dengan demikian, semoga kita akan bersama para ulama, sampai hari kiamat Mr. Presiden.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 08 Januari 2017

Kamis, 04 Januari 2018

Kebijakan Pemerintah di Balik Jumlah Kartu Indonesia

Kebijakan Pemerintah di Balik Jumlah Kartu Indonesia

Meski tidak tahu efek domino yang akan ditimbulkan oleh kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM), yang jelas ini tidak menguntungkan bagi rakyat Indonesia. Secara sederhana banyak hal yang bisa diprediksi akibat kenaikan tersebut. Meski tidak melalui analisis secara akademis dengan pendekatan yang ilmiah. Hipotesis secara kasar ini sudah bisa memprediksi.

Tidak harus berbicara dalam skala yang luas. Kita bisa melihat dampak yang akan terjadi pada kita sendiri dan lingkungan sekitar kita sejauh yang bisa kita amati. Secara langsung dampak yang akan didapatkan seperti naiknya tarif angkutan umum. Dari sini, akan berdampak terhadap kenaikan harga-harga yang lain, termasuk sembilan bahan pokok (sembako).

Ketika tarif angkutan umum naik, maka dapat dipastikan bahwa para pedagang yang selama ini memanfaatkan jasa angkutan umum akan menaikkan harga dagangannya. Secara langsung kita sebagai konsumen akan merasakan kenaikan itu, karena kenaikan BBM selama ini merupakan alasan yang sangat mematikan bagi konsumen yang dimanfaatkan oleh para pedagang.

Belum lagi, hal-hal yang akan ditimbulkan oleh profesi-profesi lain seperti tukang becak. Selama ini tukang becak memanfaatkan jasa angkutan umum untuk sampai ke tempat kerja (baca: kota), meski ada sebagian yang mengayuh becaknya dari rumahnya sampai ke tempat kerjanya dengan jarak yang sangat jauh--kurang lebih 15 km. Sedangkan tarif becak sulit untuk dinaikkan, karena banyaknya jumlah tukang becak.

Tidak hanya BBM yang naik. STNK dan BPKB pajaknya juga ikutan naik. Keduanya seperti sedang berada di arena sirkuit. Berpalapan dan berlomba saling mendahului antara yang satu dengan yang lain. Yang paling tinggi tarifnya, maka dia yang keluar sebagai pemenang.

Tentu, pemerintah bukan tanpa alasan menaikkan harga BBM dan pajak kendaraan bermotor. Apa pun alasannya, ada alasan yang paling masuk akal di antara alasan yang ada, yaitu membuat banyak tambahan kartu untuk Indonesia. Karena selama ini Indonesia terbukti hidup dengan kartu. Termasuk kartu kredit macet.

Kalau pemerintah punya alasan menaikkan untuk pembangunan infrastruktur yang mangkrak, pemerintah tidak bisa menjadikan rakyat sebagai objek pembantu pembangunan. Optimalisasi Sumber Daya Alam adalah jawaban paling baik untuk mengatasi masalah itu, bukan malah rakyat yang dikorbankan. Cukuplah beban keras ini saja yang bisa kami tanggung, jangan persoalan lain.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 05 Januari 2017

Banjir dan Kealpaan Manusia

Banjir dan Kealpaan Manusia

Rumah kita seperti lorong-lorong kecil, tempat di mana air melintas. Alternatif lintasan air yang meluber dari gorong-gorong yang menyempit adalah rumah kita. Iya, dirimu dan diriku. Inilah, akibat desain bagus di permukaan, di dalam penuh sampah dan kepalsuan. Penuh dengan "isi kepala" manusia yang tidak taat pada peraturan lingkungan hidup.

Hari ini bukan saatnya mengutuk keadaan, seperti apa pun gelapnya, tapi berusaha menyalakan lilin seberapa pun terangnya. Keberagaman pengetahuan ini harus dimaklumi dan dipandang sebagai keterbatasan. Tidak semua orang tahu tentang hukum kausalitas. Faktor alam memang menjadi penyebab terjadinya banjir, seperti adanya curah hujan berlebih dengan waktu yang sangat lama. Tetapi tidak berarti mengabaikan faktor lain dari kelalaian manusia.

Faktor-faktor partisipasi masyarakat dalam hal penyebab banjir tidak kalah banyak, meski tidak sampai harus dihitung dengan kalkulator. Cukup jari tangan saja. Penebangan pohon secara liar, yang mengakibatkan hilangnya salah satu fungsi penyerap air, yaitu akar pada pohon itu. Termasuk sampah yang dibuang sembarangan, menjadi penghambat iring-iringan air menuju hilir, sehingga air harus mencari jalan alternatif bebas hambatan. Kurang lebih seperti pengendara tak ber-SIM yang dihalau Polantas.

Kemudian, pembangunan yang dilakukan di bantaran sungai. Terus, kenapa? Masalah buat lho! Oh, tidak. Masalahnya buat kamu sendiri, bukan buat saya. Sungai semakin menyempit, karena sisi sungai yang harusnya menjadi lintasan air dimanfaatkan untuk bagian dari bangunan. Akhirnya air yang harusnya melintas, naik ke permukaan sungai dan jalan-jalan ke perkampungan masyarakat. Semacam rekreasi, begitulah! Melepas lelah setelah perjalanan berkilo-kilo dari hulu. Nah, lho, baru tahukan kalau air juga butuh rekreasi.

Musim libur telah usai bagi manusia, khususnya birokrasi, saatnya sekarang bekerja. Bekerja mengatasi banjir. BPBD mana BPBD? Sekali bekerja, yang banyak sekalian. Bukankah pekerjaannya menunggu bencana, sekaranglah saatnya bekerja. Tapi tenang saja pak, kami masyarakat siap membantu.

Ups, belum selesai sampai di sini ulah kita yang menyebabkan banjir. Drainase yang diubah tanpa memperhatikan amdal, terlebih di lingkungan perkotaan. Jangankan diperkotaan pak, yang nyaris semua halaman dipaving. Di pedesaan saja kalau drainase salah tempat, air tidak mau lewat. Kalau sudah tidak mau lewat jalan yang disediakan, repot kan.

Terakhir, salah sistem tata ruang. Penyebab banjir yang satu ini dapat mengakibatkan air sulit untuk menyerap serta alirannya lambat. Sementara air yang datang ke wilayah tersebut jumlahnya akan lebih banyak dari yang biasanya dialirkan sehingga dapat dengan cepat terjadi banjir. Serapan air diperkotaan yang sudah sangat kecil harus diimbangi dengan dengan tata ruang yang benar. Sekarang halaman rumah perkotaan sudah tidak bisa menyerap air, sudah serba beton. Penting juga seandainya halaman rumah diimbangi dengan pertamanan.

Turut berduka atas musibah (banjir) yang menimpa saudara-saudaraku di Pamekasan. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmatNya pada kalian semua. Amin

Wallahu a'lam!

Sampang, 04 Januari 2017

Selasa, 02 Januari 2018

LPM, dan Kepentingan Sosial

LPM, dan Kepentingan Sosial

Puluhan mahasiswi menghadiri dan mengikuti Pelantikan dan Diklat Jurnalistik Tingkat Dasar (DJTD) yang dilaksanakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), Sekolah Tinggi Miftahul Ulum Pamekasan. Tentu, hari ini kegiatan itu digelar, selasa tanggal 03 Desember 2017--bukan kemarin dan juga bukan besok. Tepatnya di daerah Pondok Pesantren Kebun Baru Palengaan Pamekasan, yang diasuh oleh KH. Misbahol Munir.

Kegiatan itu dimaksudkan untuk berkontribusi pemahaman tentang pentingnya memahami sejarah media (baca: pers) dengan kecenderungan menciptakan arah berpikir bagi masyarakat. Selektivitas terhadap pemberitaan yang semakin tidak terbatas, mutlak dibutuhkan. Sebab tidak semua media, apa adanya. Apa lagi, insan akademis. Tidak boleh sampai tergiring dan terdekti oleh sebuah kepentingan di balik pemberitaan. Percaya boleh saja, sebagai sebuah informasi, tetapi sampai memosisikan diri untuk menjadi bagian dari kepentingan pemberita, tunggu dulu. Itu sedikit ulasan yang sempat disampaikan.

Sebagai langkah antisipasi, kegiatan semacam ini harus senantiasa digalakkan. Sebab, saat ini kita sudah sangat sulit membedakan, mana media yang sudah resmi mendapatkan legitimasi secara konstitusi, atau media yang abal-abal. Banyaknya media yang muncul hari ini sangat mengurangi objektivitas pemberitaan. Dan bahkan, ini mengurangi kepercayaan masyarakat kepada media yang resmi.

Media abal-abal saat ini sudah banyak yang merusak dan merasuk pola pikir masyarakat. Jangankan masyarrakat awam, yang terdidik pun banyak yang tergiring. Media yang dibuat di atas unsur kepentingan ini sengaja didesain untuk mempengaruhi masyarakat untuk menciptakan pro dan kontra bagi masyarakat, yang berakhir adu domba.

Kepentingan besar di balik semua ini harus dimaknai sebagai sebuah ancaman yang sangat membahayakan bagi keutuhan sebuah bangsa. Bangsa yang damai seperti Indonesia seperti sangat mudah dihancurkan oleh berita bohong (baca: hoax) yang bertebaran di mana-mana. Kecerdasan dengan menggunakan intuisi dan perenungan yang dalam sangat penting dalam keadaan bangsa yang genting seperti saat ini. Memaklumi perbedaan pilihan dan pemikiran tanpa memutus tali silaturrahim yang satu dengan yang lain.

Jika negara ini sudah betul-betul pecah-belah, pemenangnya bukan kita; bukan bangsa Indonesia. Tetapi kepentingan asing yang segera akan menjajah untuk kesekian kalinya.

Wallahu a'lam!

Sampang, 03 Januari 2017

Senin, 01 Januari 2018

Pamekasan dan Wajah Perpolitikan

Pamekasan dan Wajah Perpolitikan

Dan seperti inilah wajah perpolitikan di kabupaten ini pada hari ini; money politik. Hujan uang di mana-mana. Tidak tahu sumbernya dari mana. Apakah dari langit seperti air hujan atau seperti air laut tinggal ambil pakai ember. Atau, ah, entahlah!

Seorang calon Bupati bisa menghamburkan uang dari puluhan hingga ratusan miliyar agar bisa terpilih. Ada sponsor yang akan mendanai, cukup dengan selembar surat perjanjian konsesi jika ia terpilih. Atau sponsor tersebut mau mengamankan investasi yang sudah berjalan. Tetapi umumnya sponsor akan mengeluarkan dana besar jika ada surat perjanjian hutang. Itu pun jika sang calon mempunyai kans kuat terpilih. Maka banyak calon menyewa lembaga-lembaga survei yang sudah direkayasa untuk meyakinkan sponsor. Jika tidak, jangankan sponsor atau teman, setan saja pura tidak kenal.

Bisnis pencitraan laku keras. Banyak calon memajang poto besar-besar di sepanjang jalan, datang ke kampung-kampung untuk berjualan kecap. Orang-orang ini pandai sekali berjualan kecap, hingga semua orang percaya seolah mereka telah berbuat banyak untuk kabupaten kita ini melebihi para pahlawan perang di mana pun. Membuat stiker dan kaos, dibagi-bagikan dalam setiap kesempatan--dibagikan kepada orang yang satu kabupaten. Orang baik membatasi wilayah untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Haruskah ada tanda tanya (?).

Berbagai acara digelar di kampung-kampung. Setiap hari sibuk mengatur jadwal undangan, seolah ingin mengatakan bahwa mereka benar-benar peduli, siap meluangkan waktu pribadi, bersikap egaliter dan merakyat untuk kepentingan yang lebih besar, berjuang tanpa pamrih--Modus seperti ini yang sempat terjadi pada saudara tertua Lukman Hakim. Bukankah popularitas itu modal utama agar melanggeng sebagai pemimpin? Dan hasilnya cukup fantastis. Bukankah dalam kontes ini popularitas itu jauh lebih penting dari apapun? Kerja nyata hanya ada di media sosial selebihnya tidak pernah ada.

Satu tahun pertama si Bupati sibuk berpikir mengembalikan hutang dengan cara bagi-bagi proyek atau konsesi untuk para penyumbang dan pemberi pinjaman. Untuk itu, perlu dicari pejabat-pejabat eselon dibawahnya untuk diajak untuk menjamin loyalitas dan memudahkan kerja birokrasi alias bisa diajak kongkalikong--yang tidak bisa diajak seperti kakanda Akhmad Zaini dimutasi, Hihi. Tahun kedua, berbagai kontrak bisnis ditandatangani. Tahun ketiga berhitung keuntungan. Tahun keempat bersiap menuai masalah. Jika ia bisa lolos dari jebakan petugas korupsi, ia bisa mengumpulkan modal kembali untuk pemilihan berikutnya. Dan pada tahun kelima, ia sudah sibuk kampanye pencalonan ulang.

Kalau pun dia sudah dua kali terpilih, maka mempersiapkan pengganti yang kelak bisa meneruskan atau mengamankan kerajaan bisnisnya adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. Lantas kapan waktu untuk memikirkan rakyat seperti saudara Muhammad Ali Wahdi, atau Jheey Iheey Novemb dan yang lainnya. Sungguh kasihan sekali orang-orang yang menjadi korban janji-janji itu.

Wallahu a'lam!

Sampang, 02 Januari 2017

Minggu, 31 Desember 2017

Ramah, Baik, dan Ta'dzim (RBT)

Ramah, Baik, dan Ta'dzim (RBT)

Ramah, baik, dan ta'dzim, merupakan sifat yang melekat pada diri manusia-meski tidak semua manusia mempunyai sifat demikian. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), ramah berarti baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan. Maka dengan demikian, tidak mungkin ada kambing tiba-tiba menjadi ramah. Kalau ada temannya bermain sesama kambing, ia bertutur kata dengan baik, sehingga menyenangkan bagi kambing lainnya.

Baik, lebih bersifat universal. Orang yang baik tentu dia akan menjadi orang yang ramah, tetapi orang ramah belum tentu dia baik. Sebab, instrumen kebaikan itu tidak hanya ramah, tetapi ada hal lain seperti bekerja (sepenuh hati) dan berbagi untuk orang lain (baca: rakyat), yang biasa disebut dengan 'Berbaur'. Dalam kebaikan, tentu ada sifat tertentu yang lebih dominan dalam pribadi seseorang, seperti sifat ramah itu sendiri.

Tentu, sifat baik itu juga identik dengan sifat manusia. Karena lagi, tidak mungkin ada sapi pada Hari Raya bagi-bagi daging kurbannya sendiri, atau karena ta'dzim dia datang pada seorang Kyai untuk disembelih. Atau saking ta'dzimnya pagi buta tanpa dibawa pemiliknya, ia pergi ke sawah untuk membajak sawah. Sungguh, sapi yang ta'dzim sekali.

Ta’dzim, dalam bahasa inggris dapat berarti “respect” yang mempunyai makna sopan-santun, menghormati dan mengagungkan orang yang lebih tua atau yang dituakan. W.J.S. Poerwadarminta mengatakan bahwa sikap ta’dzim adalah perbuatan atau prilaku yang mencerminkan kesopanan dan menghormati kepada orang lain terlebih kepada orang yang lebih tua darinya atau pada seorang kyai, guru dan orang yang dianggap dimulyakan.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sikap ta’dzim adalah suatu totalitas dari kegiatan ruhani (jiwa) yang di realisasikan dengan prilaku dengan wujud sopan-santun, menghormati orang lain dan mengagungkan guru.

RBT (Inggris: ring-back tone) atau nada sambung adalah suara yang diperdengarkan di jalur telepon oleh pihak penelepon setelah selesai melakukan pemanggilan dan sebelum panggilan dijawab oleh pihak yang dihubungi. Versi personal dari nada sambung disebut nada sambung pribadi. Nada sambung dapat berbeda-beda di setiap negara tergantung kebutuhan spesifikasi nada sambung di negara tersebut. (Wikipedia)

Sehingga, tidak usah kaget bila sedang menelepon, tiba-tiba di ujung sana ada suara Bang Rhoma Irama dengan "bujangannya", suara Mars PMII yang mendayu-dayu, atau bahkan shalawat yang dilantunkan dengan versi kosidah Ainada Ria. Sungguh menyenangkan sekali. Bahkan tidak sedikit orang, menelepon hanya dengan kepentingan ingin mendengarkan nada sambung ini. Nada sambung ini, membuat orang betah berlama-lama di ujung telepon meski lama tak diangkat.

RBT juga bermakna Ra Baddrut Tamam. Tokoh muda yang saat ini sedang naik daun; meramaikan kontestasi Pilkada Pamekasan, digandrungi banyak orang terutama kaum muda. Beliau dikenal sebagai sosok pemimpin muda yang ramah, baik, ta'dzim, cerdas dan murah senyum. Sudah banyak prestasi yang beliau dapatkan, mulai dari sebelum dan setelah menjabat sebagai DPRD Jatim. Beliau juga aktif sebagai sekretaris Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur.

Dan yang pasti, anda akan terpikat dan betah bila berlama-lama dekat beliau, terutama dengan senyumnya yang memukau yang tidak semua orang miliki. Sehingga, tidak berlebihan jika kita manaruh harapan besar kepada beliau untuk menjadi pemimpin di bumi gerbang salam ini. Dengan maksud untuk merubah keadaan Pamekasan menjadi lebih baik pada masa yang akan datang.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 28 Desember 2017

Tahun Baru Harusnya Lebih Baik

Tahun Baru Harusnya Lebih Baik

Tidak benar, jika upacara tahunan yang hampir menyerupai setan itu adalah warisan. Sebab, tempo dulu tidak banyak orang yang cukup mampu untuk membeli sepeda motor untuk dijadikan sebagai media konvoi seperti saat ini. Kalau pun ada jumlahnya sangat terbatas, itu pun hanya orang-orang elit kelas menengah ke atas. Sedang orang kampung hanya menjadi pemerhati dari jarak jauh. Bagi orang kampung, jangankan sampai memiliki, berpikir untuk memiliki saja tidak terbersit.

Seperti yang disampaikan oleh Soe Hok Gie, "Cepat atau lambat, suka atau tidak suka, perubahan hanya soal waktu," dan dilanjutkan oleh seorang penyair Chairil Anwar, "Karena zaman tidak bisa dilawan". Betul saja, yang semula kendaraan sepeda motor hanya dimiliki sebagian orang, kini sudah hampir dimiliki oleh semua orang; yang dulu hanya ada di perkotaan, di kampung pun sudah hampir setiap rumah ada. Tidak hanya yang tua, bahkan yang muda sekali pun.

Iya, perubahan hanya soal waktu, karena zaman tidak bisa dilawan. Mau apa lagi. Mungkin karena aneka ragam produksi kendaraan sepeda motor yang sangat banyak dengan harga yang relatif murah yang menyebabkan semua kalangan bisa memiliki.

Persoalannya bukan terletak kepada berapa jumlah pengguna kendaraan sepeda motor. Tetapi lebih kepada kecenderungan yang ditimbulkan bagi orang-orang yang belum siap memanfaatkannya dengan baik dan benar. Semisal menjelang tahun baru. Banyak catatan yang perlu dievaluasi atas kecenderungan para pemuda dalam berkendara. Mereka berjalan bersama beriringan dan menyisakan sedikit jalan bagi pengendara yang lain. Sangat mengganggu sekali.

Sebenarnya, dalam konteks tahun baru dengan aneka ragam pernak-perniknya, generasi saat inilah yang memulai. Tidak ada budaya yang sama sekali diturunkan oleh para orang tua. Mereka berinisiatif merayakan tahun baru dengan cara-cara yang menurut mereka menyenangkan. Dengan aneka ragam asesoris yang dikenakan, mulai dari riasan wajah yang tidak kalah seram dibandingkan setan, pakaian yang pantas untuk orang yang sudah meninggal; warna rambut yang tidak kalah macam dengan cat tembok, dan menyorong seperti bulu ayam mau tarung; wajah yang mirip vampir, dan lain sebagainya.

Dan dapat dipastikan, jika tidak segera diantisipasi budaya semacam ini akan menjadi budaya yang akan diwariskan secara turun-temurun. Semua elemen bisa mencegahnya, baik itu kepolisian, tokoh masyarakat dan lain-lain. Sebab, hal semacam ini lambat atau cepat akan merusak generasi bangsa.

Bisa dibayangkan, jika anak gadis harus pulang lebih dari jam 00.00 WIB. dan tidak sendirian pula, dia bersama teman laki-lakinya.

Yang paling jelas dari sekian banyak yang akan disampaikan, perlu disampaikan bahwa merayakan tahun baru dengan konvoi itu tidak baik dan tidak ada manfaatnya.

Wallahu a'lam!

Proppo, 01 Januari 2017