This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 13 Mei 2018

Ketika Sang Wali Butuh Pendapat (?)

Ketika Sang Wali Butuh Pendapat (?)

Seorang wali yang mendapat bocoran tentang musibah yang akan terjadi-di sebuah desa-sedang bingung. Sebagai seorang wali, ia mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menyelamatkan penduduk desa dari musibah itu. Untuk menyelamatkan penduduk desa, seperti tidak ada cara lain selain dengan cara mengevakuasi penduduk desa itu ke tempat yang aman. Namun yang menjadi persoalan adalah cara bagaimana meyakinkan penduduk desa bahwa di desa itu akan terjadi musibah. Namanya penduduk desa, aneka macam karakter yang ada sulit untuk diajak kerja sama, apa lagi perihal sesuatu yang belum jelas.

Namanya penduduk desa, tidak hanya satu atau dua orang saja, tapi ratusan atau bahkan ribuan. Bisa kita bayangkan dalam kondisi itu. Jika ada orang menyampaikan suatu hal yang besar dan tidak betul-betul terjadi, kira-kira apa yang akan dilakukan kepada orang itu selain dicincang habis-habisan. Dengan jumlah penduduk yang banyak itu harus dievakuasi, maka sulit sekali untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Di sisi yang berbeda, Sang Wali juga harus menyembunyikan identitas diri tentang kewaliannya. Sebagai seorang wali yang menyembunyikan statusnya, otomatis orang hanya melihat profesi yang digeluti selama ini, bukan sebagai seorang wali. Pekerjaan sebagai petani, yang menurut sebagian orang sebagai pekerjaan kelas dua atau dalam kacamata sosial identik dengan pekerjaan masyarakat menengah ke bawah semakin mengurangi kepercayaan masyarakat atas apa yang akan disampaikan.

Memberikan pemahaman dan meyakinkan penduduk tentang hal itu rasanya sulit, karena selain status sebagai seorang wali yang dirahasiakan, beliau adalah seorang petani. Mana bisa seorang petani tiba-tiba berfatwa bahwa di desa itu akan terjadi musibah, kecuali dia akan menjadi bulan-bulanan masyarakat desa karena dianggap tidak waras. Tidak, rasanya itu bukanlah jalan yang baik. Harus berpikir ekstra keras dengan langkah-langkah yang cerdas.

Sang Wali pun bingung. Ia harus berpikir keras untuk memecahkan masalah itu; dan harus pandai memanfaatkan satu jatah doa yang akan dikabulkan oleh Tuhan dalam masalah itu. Kira-kira doa apa yang akan dipanjatkan untuk menyelamatkan penduduk desa. Apakah akan berdoa agar musibah itu digagalkan. Tidak, rasanya itu tidak mungkin, karena persoalan itu merupakan hak prerogatif Tuhan, manusia hanya punya upaya dan ihtiar untuk menghindari itu.

Atau, berdoa memohon uang sebanyak-banyaknya untuk membuat rumah di tempat yang berbeda. Kemudian penduduk dievakuasi ke tempat itu. Tapi ini mencurigakan sekali. Bagaimana mungkin seorang petani mempunyai banyak uang untuk membeli tanah dan membuat rumah untuk penduduk desa. Sungguh di luar nalar akal sehat. Sang Wali, semakin bingung tentang apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan penduduk desa, dengan satu jatah doa itu.

***
Seandainya, Anda adalah Wali itu. Apa yang akan anda lakukan untuk menyelamatkan penduduk desa? Sedangkan anda tidak boleh membocorkan rahasia tentang kewalian anda yang memungkinkan orang percaya terhadap apa yang anda sampaikan, termasuk tentang musibah yang akan terjadi, dengan tujuan agar masyarakat perpindah dengan sukarela.

Berikutnya, bila Tuhan berkenan memberikan satu permintaan yang akan dikabulkan olehNya. Kira-kira, doa apa yang akan dipanjatkan untuk menyelamatkan penduduk desa itu, selain gagalnya musibah di desa itu.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 13 Mei 2017

Sabtu, 12 Mei 2018

Pergeseran Paradigma Perguruan Tinggi

Pergeseran Paradigma Perguruan Tinggi 
Perguruan tinggi merupakan salah satu subsistem pendidikan nasional. Keberadaannya dalam kehidupan bangsa dan negara berperan penting melalui penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Pasal 20 Ayat 2).

Dasar itulah yang mengantarkan perguruan tinggi pada puncak paling tinggi dalam kontribusinya mencerdaskan kehidupan bangsa. Kontribusi itu sudah digambarkan dalam kehidupan sehari-hari dari segala bidang kehidupan yang hampir semua elemen masyarakat dimotori oleh mahasiswa–mahasiswa yang sudah menyelesaikan pendidikan di pergruan tinggi—baik bidang pendidikan, ekonomi, politik, hukum, pemerintahan, sosial dan budaya, serta pemberdayaan dan lain-lain. Prestasi perguruan tinggi yang ikut andil dalam pencerdasan bangsa ini secara langsung berpengaruh terhadap kesejahteraan kehidupan bangsa.

Tetapi naif sekali ketika perguruan tinggi yang dipercaya sebagai pencerah bagi bangsa melakukan praktik-praktik yang keluar dari fungsinya dan mengabaikan nilai Tri Dharma Perguruan tinggi. Seperti yang banyak terjadi belakangan ini, yang semestinya perguruan tinggi memberikan motivasi secara maksimal kepada mahasiswa dalam melakukan penelitian dengan segala bentuk bimbingannya, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, karena beberapa oknum perguruan tinggi malah memanfaatkan hal itu sebagai perluasan penghasilan dengan cara mengambil alih tugas akhir (skripsi) mahasiswa untuk mendapat penghasilan lebih.

Pembodohan terhadap mahasiswa itu sesungguhnya telah menciderai Tri Dharma perguruan tinggi, yang seyogyanya dalam proses pendidikannya melakukan penelitian sebagai bekal pengalaman hidupnya, ternyata hal itu tidak terjadi. Hal ini akan menggeser posisi mahasiswa sebagai orang yang dianggap paling mampu memberikan penyelesaian terhadap segala bentuk fenomena dan problematika sosial.

Point penting dalam Tri Dharma perguruan tinggi seperti penelitian sebagai pengembangan keilmuan bagi mahasiswa sudah dipotong prosesnya oleh pihak perguruan tinggi yang tidak bertanggungjawab. Hal inilah yang mengakibatkan degradasi pemikiran dan keilmuan di kalangan mahasiswa, yang akhirnya mengakibatkan menurunnya militansi dan keterpurukan hidup. Paling ironis bagi sebagian mahasiswa yang selama ini getol melakukan pembelaan terhadap keberlangsungan hidup masyarakat akar rumput dengan cara melakukan penekanan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, kini mereka tidak mampu membela teman sekampusnya dari pembodohan terstruktur.

Bagi para mahasiswa yang selama ini melabelkan dirinya sebagai aktivis lihatlah hal ini sebagai bentuk kejahatan yang harus dicarikan solusi. Harus ada langkah-langkah kongkrit yang dilakukan oleh para pemikir ini, karena saat ini perguruan tinggi sudah tidak mampu memberikan pendidikan bagi mahasiswa untuk meneliti dan menulis. Mata kuliah penulisan karya ilmah di perguruan tinggi yang tidak produktif itu hasrus disikapi oleh segenap mahasiswa dengan cara sesering mungkin melakukan kajian-kajian yang bisa memberikan jawaban terhadap kegelisahan mahasiswa lainnya dalam hal penulisan karya ilmiah yang dimaksud.

Hentikan kejahatan struktural dan jual beli tugas akhir (skripsi) bagi mahasiswa. Hentikan segala bentuk pembodohan bagi mereka sebagai generasi penerus bangsa.

Mari, berpikir sambil menikmati secangkir kopi dengan sebatang rokok.

Pamekasan, 13 Mei 2015

Kamis, 10 Mei 2018

Lantas, Siapa Yang Benar?

Lantas, Siapa Yang Benar?

Saat ini umat Islam dihadapkan dengan persoalan-persoalan yang sangat meresahkan. Munculnya banyak organisasi keislaman yang mempunyai pendekatan yang berbeda dalam menyikapi persoalan sosial, politik, hukum di Indonesia telah membuat umat Islam bingung. Konstruksi berpikir para cendekiawan yang disandarkan pada nilai-nilai agama justru menjadi penyebabnya. Taruh saja, bagaimana dari kalangan umat Islam memberikan penilaian terhadap kebijakan yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Bapak Basuki Tjahya Purnomo (Ahok) ketika melakukan penggusuran terhadap rumah warga yang tinggal di atas lahan milik pemerintah. Di antara mereka ada yang membenarkan ada pula yang menyalahkan.

Parahnya lagi, tidak hanya persoalan kebijakan yang menjadi sorotan, agama sang gubernur juga menjadi sorotan. Sehingga muncul sebagian kalangan orang-orang yang mengatasnamakan agama, larangan-larangan untuk memilih gubernur dari nonmuslim; meski di sisi lain banyak juga organisasi kemasyarakatan--termasuk orang di dalamnya--membolehkan nonmuslim sebagai gubernur, dan hal itu juga atas nama agama.

Belum lagi, fenomena adanya organisasi yang mengatasnamakan Islam mendeklarasikan penerapan hukum Islam di Indonesia. Tidak ayal, hal ini menuai kontroversi dan bahkan kecaman dari organisasi keislaman lainnya, dengan alasan NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara sudah final dan tidak perlu diotak-atik kembali. Argumentasi-argumentasi pembenaran bertebaran di mana-mana, baik melalui selebaran atau media sosial. Semuanya saling menguatkan ideologi yang mengusung nilai yang dianggap sebagai kebenaran dimaksud. Para tokoh baru bermunculan dengan hujjah-hujjah pembenaran terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan, sekaligus sebagai pembendung serangan pihak lain yang tidak sejalan dengan pemikirannya.

Selain itu, muncul lagi sebuah aliran (faham) yang dengan sengaja mengganggu konsentrasi kelompok lain dalam ibadah. Ibadah dengan nilai-nilai tradisi di dalamnya diserang tanpa ampun. Baik dengan menyebut kelompok itu syirik, kafir, dan penganut bid'ah. Bagaimana mungkin akan tercipta kenyamanan dalam beribadah apabila sesama umat Islam saling menyalahkan dan menjatuhkan antara yang satu dengan lainnya. Dan kelompok yang disudutkan juga tidak tinggal diam, sehingga perang ayat dan haditspun tidak bisa dihindarkan terjadi di mana-mana, baik melalui selebaran, media sosial dan majelis-majelis.

Sampai saat ini umat islam masih sibuk dengan persoalan perbedaan di dalam agama itu sendiri. Sehingga konsentrasi umat Islam banyak tersita merampungkan argumentasi-argumentasi untuk menghantam saudaranya sendiri. Sisi lain, orang di luar kita sudah berpikir bagaimana mampu meningkatkan taraf hidup dengan banyak melakukan penelitian dan penemuan. Sehingga, untuk saat ini dominasi pengetahuan di bidang teknologi dikendalikan oleh orang-orang di luar Islam. Sedang argumentasi-argumentasi umat islam belum rampung. Jika demikian adanya, akhirnya kita menjadi bagian orang yang menurunkan harkat dan martabat Islam itu sendiri dengan mengatasnamakan Islam. Umat Islam hari ini masih sibuk berdebat tentang nilai-nilai keagamaan dalam Islam yang sesungguhnya sudah finish, padahal hari ini tinggal bagaimana kita mengimplementasikannya.

Coba sebentar saja kita melihat sejarah bagaimana rekam jejak ulama terdahulu menjaga wibawa agama Islam. Agar umat Islam tidak dinyatakan sebagai umat yang tertinggal di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, para ulama terdahulu mampu menyaingi para ilmuwan, termasuk ilmuwan Eropa sekalipun. Seperti Al-Khawarizmi yang hidup (780-850 M.) telah berkontribusi dalam bidang astronomi; Ibnu Haitham yang menggeluti ilmu sains dan optik; Ar-Razi (864-930 M.) yang ahli di bidang kedokteran selain itu juga menekuni bidang yang lain seperti kimia, filsafat, logika dan fisika; Ibnu Sina ahli di bidang filsafat dan kedokteran; Al-Fàràbi ahli terapi musik dan ahli hukum; Al-Khazini merupakan ilmuwan Astronomi yang mencetuskan beragam teori penting dalam sains seperti: metode ilmiah eksperimental dalam mekanik, energi potensial gravitasi, perbedaan daya, masa dan berat, teori keseimbangan hedrostatis; Al-Kindi yang ahli di bidang kedokteran, filsafat, dan terapi musik; Al-Biruni adalah seorang Fisikawan dan teori gravitasi bumi; Ibnu Khaldun adalah seorang yang ahli dalam bidang sosiologi dan Ekonomi; Al-Zahrawi ahli bedah dan kedokteran; Jabir Ibnu Hayyan adalah seorang yang ahli di bidang kimia; dan kita masih belum selesai berbicara tentang furuiyah dan khilafiyah.

Untuk saat ini dibutuhkan para pembaharu pemikir Islam yang tidak terkontaminasi oleh gesekan antar golongan yang menghambat terhadap Ide-ide cerdas. Sehingga lahir generasi brilian yang mampu mengembalikan masa kejayaan Islam di masa depan, tidak hanya yang bersifat keagamaan tetapi juga yang mampu bersaing di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Entah, kapan hal itu akan menjadi kenyataan, tapi ini adalah harapan.

Wallahu a'lam.

Pamekasan, 11 Mei 2016

Selasa, 08 Mei 2018

Realitas Permainan Catur dalam Pilkada

Realitas Permainan Catur dalam Pilkada

Dalam permainan catur, kita akan mengenal istilah solid dan agresif. Solid menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah kuat; kukuh; berbobot: "organisasi itu terkenal sebagai organisasi yang solid," begitulah kira-kira contohnya. Permainan solid cenderung bertahan dan mengandalkan serangan balik, itu pun jika serangan lawan dirasa mengancam dan membahayakan bagi dirinya. Selain bertahan, permainan solid juga mampu memanfaatkan perwira dengan baik.

Bila tidak membahayakan, permainan solid lebih suka dengan bermain indah dan akrobatik; menonjolkan kemampuan bermain kualitas dengan mengembangkan perwira dengan baik. Kelebihan permainan solid, semakin diserang semakin membahayakan bagi lawan. Solid merupakan wujud dari, kematangan, kebijaksanaan dan kesabaran, memahami segala situasi dan kondisi dengan cermat; tahu kapan bertahan dan kapan saatnya menyerang. Solid berbanding terbalik dengan agresif.

Agrésif bersifat atau bernafsu menyerang; secara psikologis cenderung (ingin) menyerang sesuatu yang dipandang sebagai hal atau situasi yang mengecewakan, menghalangi, atau menghambat. Pemain catur dengan tingkat agresifitas yang tinggi cenderung menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, sebab dalam kondisi seperti itu situasi sering tidak terkontrol dengan baik. Sikap agresif melahirkan sikap gegabah dengan langkah-langkah ceroboh.

Pemain agresif yang mempunyai kemampuan bermain di atas pemain yang solid, mungkin sangat mudah untuk mendobrak pertahanan lawan. Namun, bagi dua pemain yang mempunyai tingkat kemampuan yang sama, terlalu agrésif hanya akan melahirkan langkah-langkah blunder. Kesalahan satu langkah akan merusak formasi dan melemahkan pertahanan, pada saat yang sama, kekalahan mengintai di belakangnya.

Solid bukan berarti lemah, justru solid itu sudah penuh dengan kematangan dalam segala hal, dan lebih bijaksana dalam mengontrol permainan. Sementara itu, pemain agresif mengandalkan serangan meski terkadang tanpa perhitungan yang matang. Kecerobohan-kecerobohan biasa sering terjadi pada babak akhir pada permainan yang agresif. Dan bahkan dalam kondisi tertentu, ia melangkah tanpa tujuan yang penting menyerang.

Realitas permainan dalam catur ini juga menjadi bagian dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan kita sehari-sehari dapat kita jumpai dengan mudah orang-orang yang hanya bisa menyalahkan dan menyerang orang lain hanya untuk menutupi kekurangan yang ada pada dirinya; hanya untuk membangun kesan bahwa dirinya hebat dan lebih cerdas. Padahal menyerang tanpa ada konsep tandingan sama dengan mempertontonkan kelemahan dirinya. Tipe agresif ini hanya bermodalkan wacana tanpa konsep dengan perhitungan yang matang. Padahal semua orang tahu bahwa retorika saja tidak cukup untuk mengalahkan konsep yang matang.

Di akhir catatan ini, saya jadi teringat dengan debat kandidat tadi malam. Kalau kita mengikuti perdebatan itu dari awal sampai selesai, kita jadi tahu mana yang solid dan mana yang agresif; mana yang konsepnya matang dan mana yang pura-pura matang; mana yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik dan mana yang membuang waktu dengan sia-sia. Dan dalam pada ini, anda yang menilai dan memutuskan.

Wallahu a'lam. 

Pamekasan, 08 Mei 2018

Akikah untuk Anak

Akikah untuk Anak

Ada satu hal yang dipikirkan orang tua dari sekian banyak hal yang harus dipikirkan ketika anaknya lahir. Satu hal itu adalah akikah. Apa itu akikah? Akikah adalah pengurbanan hewan dalam syariat Islam, sebagai bentuk rasa syukur umat Islam terhadap Allah SWT. mengenai bayi yang dilahirkan. Ingat, substansinya adalah rasa syukur.

Yang lazim, akikah menggunakan kambing. Satu kambing untuk bayi perempuan dan dua kambing bagi bayi laki-laki. Namun demikian, kalau misalnya ada yang mau akikah lain dari kambing, yang serupa kambing seperti sapi, boleh saja. Meski masih menjadi perdebatan, kita sebagai pelaksana teknis tinggal mengikuti saja tanpa ikut memperdebatkan. Islam tidak memberatkan, kok.

Bagi peternak kambing, bukan sesuatu yang berat untuk melaksanakan ritual itu. Namun, bagi orang yang tidak beternak kambing, dibutuhkan pengorbanan untuk mendapatkannya. Harus mengorbankan materi, tenaga dan meluangkan waktu ke pasar untuk sekedar mendapatkan kambing yang sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan dimaksud, sudah layak dikurbankan, semisal giginya sudah tanggal.

Dalam pencariannya ada kenikmatan tersendiri ketika sedang berbaur dengan masyarakat. Ada banyak karakter kita jumpai di pasar. Mulai dari yang penyabar sampai yang pemarah; dari yang pemaksa sampai yang acuh; dari yang pembohong sampai yang jujur. Pokoknya nano-nano sekali. Bahkan, akibat dari kebohongan pedagang, teman saya terpaksa harus menukar kambingnya dengan tambahan uang, karena ternyata kambing yang dijual belum tanggal giginya.

Perilaku menarik dari pedagang ketika ia menggunakan nominal dalam transaksi. Bila harga jual satu juta, ia menyebutnya dengan seribu, atau jika harga jualnya lebih dari satu juta, ia hanya menyebut ekor nominalnya saja. Misalnya harga barang Rp. 1.350.000 (satu juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah) pedagang hanya menyebut dengan 350 (tiga ratus lima puluh) tanpa ribu. Sungguh tidak dimengerti maksud. Apakah mungkin maksudnya memperirit kata atau ingin membangun kesan murah pada pembeli.

Belum lagi pemilihan kalimat yang digunakan. Bukan pedagang namanya kalau tidak punya cara untuk membangunkan kesan pada pembeli. "Mun tellok sèket tak èjuàllàh," (kalau tiga ratus lima puluh tidak mau dijual) salah satu diksi yang digunakan pedagang. Bayangkan, jauh sebelum orang menawar, ia sudah meletakkan standar harga sejauh mana seorang pembeli layak menawar.

Ada kenikmatan tersendiri berbaur dengan mereka. Banyak hal yang kita pahami dalam keramaian, terutama tentang perilaku pasar. Berbaur memungkinkan banyak memahami karakter orang, dengan begitu kita akan lebih bijaksana menyikapi perbedaan. Latar belakang yang melahirkan perbedaan itu juga perlu kita maklumi. Sebab, jika kita tidak mampu menerima perbedaan, berarti dunia ini bukan tempatnya.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 07 Mei 2018

Selasa, 01 Mei 2018

Undangan, dan Pergeseran Nilai

Undangan, dan Pergeseran Nilai

Dulu, sebelum manusia familiar dengan tulis menulis, ketika hendak mengundang sanak famili, kerabat, teman, dan lainnya, caranya berkunjung ke rumahnya. Substansi dari kunjungan itu adalah pemberitahuan sebuah kegiatan yang akan dilaksanakan di rumahnya yang sekaligus mengundang kehadirannya. Bila tuan rumah yang hendak berhajat, berhalangan untuk secara langsung mengundang kerabatnya, maka ia mengutus orang yang dipercaya untuk menyampaikan undangan kepada kerabatnya. Bila shahibu al-hajat tidak mendapatkan orang untuk mewakili dirinya, maka ia berkirim surat untuk mewakili maksudnya. Inti dari semua itu, adalah pemberitahuan.

Pada hakikatnya, undangan itu terletak pada legitimasi shahibu al-hajat. Kalau pengundang memanfaatkan media lain, selain kunjungan atau utusan, semisal SMS atau sejenis pemberitahuan lainnya, maka hal itu sah-sah saja dijadikan sebagai legitimasi. Yang paling penting sumber undangan itu jelas, artinya kalau via SMS, nomor yang digunakan memang nomor orang yang hendak melaksanakan hajat. Apalagi undangan itu dilakukan dengan cara berkomunikasi sekalipun menggunakan telepon dan dilakukan dari jarak jauh, karena pada intinya, mengundang itu dengan cara apapun.

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak orang menggunakan media surat untuk mengundang. Dengan alasan kesibukan dan banyaknya jumlah orang yang akan diundang, maka pengundang melegitimasi undangannya dengan membubuhkan tandatangan atau sekedar ada nama pengundang. Ini merupakan cara terakhir untuk menyiasati, agar menjangkau sejumlah orang yang akan diundang. Ingat, bahwa undangan itu bukan kertas yang berisi pemberitahuan itu. Akan tetapi sebuah maksud yang termaktub di dalam tulisan itu. Yang sesungguhnya, bisa disampaikan secara langsung baik lisan ataupun tulisan.

Ada fenomena menarik saat ini. Yang semula, undangan tertulis merupakan alternatif untuk menyiasati kesibukan, kini menjadi substansi dari sebuah undangan. Maka, tidak jarang, ketika kita mengundang seseorang dengan menggunakan lisan, yang bersangkutan masih bertanya, "Undangannya mana?" Yang dimaksud adalah undangan dalam bentuk tulisan dalam kertas; dan undangan secara langsung dari mulut orang yang berhajat menjadi percuma dan tidak berguna. Undangan sudah betul-betul diwakili oleh secarik kertas.

Pergeseran dari yang substansi kepada formalitas ini sangat menarik untuk kita kaji dalam kacamata sosial. Sebab, kita seringkali terjebak dengan simbol yang diberlakukan jauh sebelum substansi sesuatu itu ada. Kalau lisan sudah lebih dulu menyampaikan, apa guna tulisan. Sedang inti dari keduanya adalah pemberitahuan.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 02 Mei 2017

Minggu, 29 April 2018

Bahagia dengan Cara Sederhana

Bahagia dengan Cara Sederhana

Ada yang mengatakan bahwa mengamen jauh lebih baik daripada mencuri. Iya lah, karena mengamen adalah sebuah cara mendapat uang dengan bernyanyi (keliling), sementara mencuri adalah sebuah cara mendapatkan harta dengan mengambil hak orang lain. Mengamen menghibur orang dan mencuri merugikan orang.

Mengamen, tidak hanya membutuhkan keahlian bernyanyi. Yang lazim dalam mengamen juga membawa peralatan sebagai pengiring lagu yang dibawakan. Dalam menggunakan peralatan yang digunakan sebagai pengiring nyanyian, juga membutuhkan keahlian sendiri. Misalnya, menggunakan gitar, gendang, dan seruling. Yang tidak kalah penting juga suara yang bagus.

Hal yang menarik dari pengamen ini adalah harganya yang murah. Cukup punya seribu rupiah kita sudah dapat satu lagu, kalau sampai sepuluh ribu kita sudah bisa menggelar konser, itupun tanpa permohonan surat izin ke Badan Lingkungan Hidup (BLH) atau Polres.

Kadang bahagia itu tidak harus mahal; tidak harus merogoh kantong terlalu dalam, dan; bahkan ada yang tidak butuh modal sedikit pun.

Bahagia memang tidak selamanya harus disandarkan pada jumlah materi. Tujuan dari banyak orang mengumpulkan materi untuk mencapai kebahagiaan tidak sepenuhnya benar. Materi memang faktor eksternal yang berusaha mengkontaminasi internal seseorang agar menjadi bahagia. Faktor eksternal ini mampu memengaruhi dan merekayasa pikiran seseorang dari kondisi netral menuju kecenderungan tertentu.

Di dunia ini, masih ada beberapa orang yang bahagia tanpa materi. Orang seperti ini bahagia tanpa adanya pengaruh faktor eksternal, seperti harta berlimpah, jabatan atau apapun. Kalau sumber kebahagiaan itu dari dalam diri kita, maka sangat mungkin seseorang bisa bahagia dengan sendiri tanpa pengaruh faktor eksternal.

Cara-cara efektif yang sudah terbukti mampu membangun kebahagiaan bagi seseorang adalah membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan. Pendekatan seperti ini sering digunakan oleh para sufi. Para sufi mampu membangun kebahagiaannya dengan cara mengelola bagian dalamnya dengan cara selalu menyebut dan mengingat kebesaran Tuhan. Pada saat bersamaan kebahagiaan lahir dari dalam dirinya.

Bagi orang seperti saya, untuk mencapai kebahagiaan dengan materi masih belum punya, pun dengan merekayasa pikiran masih belum bisa. Merekayasa pikiran membutuhkan konsistensi yang berkelanjutan dalam kurun waktu yang relatif lama. Sehingga akhirnya, cukuplah dengan menggelar konser, dan berbaur sebagai sebuah cara bagaimana saya berbahagia.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 26 April 2018