This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 01 Juni 2018

Pancasila sebagai Perekat, Jangan Dihujat

Pancasila sebagai Perekat, Jangan Dihujat

Sebuah negeri yang dasarnya Pancasila itu adalah Indonesia. Negeri dan Pancasila itu ibarat perangkat keras (hard ware) dan perangkat lunak (soft ware) dalam sebuah komputer. Perpaduan keduanya melahirkan sebuah negara yang disebut dengan Indonesia. Jadi bagi siapa saja yang menginginkan hidup di Indonesia, yang bersangkutan harus menerima apa adanya Indonesia dengan segala perangkat yang tersedia di dalamnya. Termasuk Pancasila, yang turunannya adalah Bhinneka tunggal ika, NKRI, UUD '45. Disebut dengan PBNU: Pancasila, Bhinneka tunggal ika, NKRI, UUD '45.

Di dunia ini, sudah banyak negara dengan perangkat lunak masing-masing di dalamnya yang memungkinkan bisa dipilih sesuai dengan selera masing-masing. Jika dalam perjalanan hidup ada ketidaksesuaian keinginan dengan sistem yang sudah terbentuk dalam sebuah negara tertentu, berdasarkan hak asasi bagi manusia itu tidak ada paksaan untuk tetap tinggal di negara itu. Dalam artian bisa mutasi kewarganegaraan sesuai dengan keinginan hati; yang cocok dengan pemikirannya, tanpa harus merusak isi negara yang telah memberikan kesempatan hidup pertama kali.

Dalam konteks Indonesia, jika ada beberapa golongan memaksakan perubahan sistem di antara masih adanya golongan lain yang menginginkan sistem itu, berarti kesadarannya (golongan) masih kecil untuk memahami hak orang lain. Kalau ada pertanyaan: bukankah semua orang mempunyai hak yang sama? Iya, betul. Tapi tidak harus mengganggu hak orang lain yang masih menginginkan sistem itu, karena sistem itu yang pertama kali diterapkan. Jika masih ingin memaksakan sistem versi lain selain Pancasila, golongan ini bisa pindah negara. Atau kalau tidak, cari negeri perdikan untuk dijadikan negara versi yang disuka.

Di dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) yang disebut dengan warga negara adalah, penduduk sebuah negara atau bangsa berdasarkan keturunan, tempat kelahiran, dan sebagainya yang mempunyai kewajiban dan hak penuh sebagai seorang warga dari negara itu. Warga negara yang baik, harus memahami segala bentuk kewajiban dan haknya kemudian menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan yang memilih berseberangan dengan segala kebijakan yang ditetapkan oleh negara tersebut. Seperti menginginkan perubahan terhadap sistem yang sudah membentuk negara itu.

Boleh saja menginginkan perubahan terhadap sebuah sistem negara, apabila sudah dianggap tidak relevan dengan keadaan bangsanya. Untuk saat ini, peraturan yang diterapkan di Indonesia masih baik-baik saja, dan jika masih belum berlaku baik, berarti ada oknum yang mempermainkan sistem itu. Tentunya yang bermain adalah orang yang mempunyai kapasitas sebagai pelaksana dari sistem dimaksud. Yang merusak sistem itu biasanya manusia-manusia yang mempunyai keinginan kuat untuk memperkaya diri.

Saling menghargai antar suku, agama, ras, dan aliran (kepercayaan) juga tidak kalah penting dalam rangka menjaga harmonisasi sosial dalam keberagaman di dalam bernegara.  Mengimplementasikan nilai-nilai yang tertanam dalam sistem bernegara sebagai perwujudan dari kepatuhan dalam bernegara harus senantiasa digalakkan untuk menghindari kekacauan. Untuk menghindari perselisihan sebagai wujud dari sebuah perdamaian sesama warga negara, kiranya setiap warga negara penting sekali memerhatikan aspek-aspek yang akan menimbulkan perpecahan dalam bingkai persatuan, seperti saling mencurigai, memfitnah, mencaci-maki, dan lain sebagainya.

Namun, diakui atau tidak, di tubuh NKRI ini telah terjadi perang dingin antara satu golongan dengan golongan yang lain. Perang dingin ini yang malahirkan perpecahan secara perlahan. Penyebabnya bisa berbagai macam: mulai dari masalah ideologi, pemikiran, keinginan yang berbeda, dan lain-lain (pembaca bisa menambah sendiri sesuai fenomena dan problematika sosial yang terjadi di lingkungan). Tapi apapun yang terjadi, semoga Indonesia tidak sampai gulung tikar, agar kelak anak cucu kita dapat menikmati hal yang sama sebagaimana kita nikmati saat ini.

Pamekasan, 02 Juni 2017

Kamis, 31 Mei 2018

Pancasila, Setan dan Orang Kanan

Pancasila, Setan dan Orang Kanan

Dengan diikatnya setan-pada bulan puasa, bisa saja orang seperti Durjudana atau Rahvana sekalipun bisa menjadi baik. Sebab, kita percaya bahwa yang selama ini menjadikan manusia jahat adalah setan dengan berbagai godaan dan tipu dayanya. Kecuali kalau orang itu terlalu dekat dengan manusia bermodel Sengkuni atau; bermodel Halayuda, karena setannya mereka sendiri.

Jangankan orang yang mempunyai potensi jahat, yang baik pun bisa menjadi jahat. Mungkin orang seperti mereka yang dimaksud Allah dalam surat An-nas tentang setan berwujud manusia yang senantiasa membisikkan (kejahatan) dalam hati manusia. Dengan segala tipu daya yang dimiliki mampu merubah akal sehat orang lain.

Apalagi setan yang memang tugasnya menggoda manusia untuk jahat, tidak akan mempengaruhi manusia untuk jahat. Dekat dengan orang yang biasa berbuat jahat saja, kita akan ketularan jahat. Sebab, karakter manusia itu akan mencuri karakter manusia lainnya secara perlahan, kira-kira itu kaidah dalam Islam yang pernah saya dengar. Maka, dianjurkan bagi kita untuk mencari dan berteman dengan manusia-manusia yang baik, agar kita ketularan baik.

Kecenderungan orang yang tingkat kemampuannya lebih tinggi, mereka lebih mudah mempengaruhi orang yang ada di bawahnya. Selektif mencari teman adalah cara paling aman dan baik. Aman dari pengaruh jahat orang-orang yang ingin menggeser pemikiran kita, utamanya yang ingin menggeser kecintaan kita kepada negara, pemimpin negara dan ideologi negara yakni Pancasila.

Dalam konteks Indonesia, menjamurnya manusia apancasilais tidak lepas dari pergaulannnya. Orang ini senantiasa bergaul dengan orang-orang kanan yang sengaja menghadapkan agama dengan negara dan menjadikan negara sebagai musuh bersama, sehingga muncullah terorisme. Terorisme itu sengaja diciptakan oleh manusia ekstrim kanan untuk merubah ideologi negara, menjadi ideologi yang diinginkan.

Jadi ingat pesan Ali Imron, bahwa mendukung terorisme itu cukup dengan mengatakan, pengalihan isu dan konspirasi pemerintah. Itu sudah membuat teroris lebih tenang dan kipas-kipas. Namun, sayangnya masih banyak di antara kita yang kesadarannya sangat kecil akan ancaman terorisme ini, sehingga mengatakan bom Kampung Melayu adalah sebuah konspirasi pemerintah. Naif sekali!

Semoga Garuda masih mampu terbang tinggi dan mengamati musuh-musuhnya, dan Pancasila mampu mengikat kuat keberagaman bangsa Indonesia ini.

Selamat hari Pancasila.
Pamekasan, 01 Juni 2017

Senin, 28 Mei 2018

Tentang Kebaikan Semu

Tentang Kebaikan Semu

Suatu hari istriku menggurui saya dengan sebuah kalimat yang bijaksana. Setelah saya anggap selesai menyampaikan seluruh isinya, lantas saya balik menyampaikan sesuatu kepadanya. Saya katakan seperti ini, "Usahakan apa yang kamu sampaikan itu sesuai dengan keberadaan dirimu. Apa yang kamu katakan itu adalah cerminan dari dirimu, bukan hanya serangkaian kata-kata dan menjadi kalimat yang bagus. Seperti seseorang yang sedang makan, itu merupakan cerminan dari orang yang sedang lapar atau; seperti orang yang sedang minum, itu merupakan cerminan dari seseorang yang sedang haus".

Sebenarnya, hal itu merupakan sebuah refleksi dari banyaknya kata-kata bijak yang tidak terlaksana, atau sama dengan sebuah ilmu yang tidak diamalkan. Memang tidak semua ilmu menuntut pengamalan, jika ilmu itu jauh dari jangkauan akal manusia seperti ilmu yang menyangkut eksistensi ketuhanan. Ilmu yang hanya menuntut untuk diketahui saja, dan tidak ada unsur pengamalannya. Mengamalkan dalam artian melakukan sesuatu dalam bentuk pekerjaan, bukan dalam bentuk meyakini.

Ruang pembicaraan ini sebaiknya memang bukan masalah teologi (tauhid), tapi mungkin yang lebih bersifat teknis seperti syariat dan tasawwuf. Sebab, konsekuensi masalah tauhid itu adalah "keluar atau tidak keluar dari kepercayaannya" sedang konsekuensi masalah syariat itu adalah "dosa atau tidak dosa" dan konsekuensi masalah tasawwuf itu adalah "baik dan tidak baik".

Syariat memang identik dengan perbuatan dhahiriah. Selain pencitraan, orang yang secara dhahir perilakunya baik, dapat dipastikan isi hatinya baik. Namun, belum tentu orang yang kata-katanya baik mempunyai sifat yang baik pula. Karena dalam kondisi tertentu kata-kata dijadikan sebagai alat kamuflase untuk mengelabui orang lain.

Memperbaiki diri dengan cara menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan itu penting diupayakan. Karena demikian itu menjadi cara untuk menjadi lebih baik. Jangan sampai kita selalu berbicara atas nama agama, tiba-tiba terbukti korupsi atau terlibat menggunakan obat-obatan terlarang.

Untuk masalah yang bersifat filosofis yang seringkali saya bicarakan, tidak berarti saya seorang filsuf. Atas dasar ketidakselarasan itu, "Saya mohon maaf!"

Wallahu a'lam!

Sampang, 29 Mei 2017

Minggu, 27 Mei 2018

Keanekaragaman adalah Rahmat bukan Kutukan

Keanekaragaman adalah Rahmat bukan Kutukan

Segala sesuatu di muka bumi ini, Allah ciptakan berbeda termasuk dengan karakter masing-masing. Jangankan berbeda jenis, yang sama jenis saja dengan bentuk yang berbeda, akan melahirkan karakter yang berbeda. Bisa dilihat, bagaimana logam (baca: besi) bisa menimbulkan bunyi yang beraneka ragam, bergantung bentuk dan di mana logam itu ditempa.

Taruh saja gamelan jawa, mulai dari gong, bonang, demung, saron, peking, kenung, gender, gambang dan lain-lain. Semua itu terbuat dari besi. Namun, karena bentuknya berbeda, maka ia melahirkan karakter suara yang berbeda pula. Bagaimana kalau besi dibandingkan dengan emas yang sama-sama logam? Ah, itu lain cerita.

Sejenis saja bisa bermacam karakter muncul, apalagi beda jenis. Bandingkan saja karakter bunyi alat musik yang terbuat dari pohon bambu (seruling) dengan alat musik yang terbuat dari logam tadi; atau bandingkan karakter bunyi keduanya dengan alat musik yang terbuat dari kulit lembu (gendang). Belum lagi, kalau kita mau bandingkan alat musik dengan binatang; binatang sesama binatang; gunung dengan pepohonan; atau manusia dengan air. Kita akan menemukan perbedaan karakter yang sangat jauh.

Bahkan manusia dengan manusia sekalipun, tidak ada yang mempunyai karakter yang sama. Termasuk yang keluar dari satu rahim, diasuh oleh orang tua yang sama, dan dibesarkan dalam lingkungan yang sama pula. Apalagi mau dibandingkan dengan keluarga yang lain dengan latar belakang yang berbeda. Misalnya, seorang anak yang lahir lingkungan perkotaan dengan anak yang lahir di pedalaman. Perkotaan dengan tingkat peradaban yang tinggi akan melahirkan anak dengan pemikiran lebih terbuka. Sedang anak yang lahir di pedalaman akan cenderung tertutup, karena keterbatasan banyak hal, termasuk akses pendidikan.

Betul sekali, bahwa faktor lingkungan sangat mempengaruhi terhadap karakter seseorang. Seperti yang disampaikan oleh seorang tokoh aliran Empirisme, John Lock-filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Aliran Empirisme berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi dewasa itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau pengalaman dan pendidikan yang diterimanya sejak kecil. Pada dasarnya manusia itu bisa didik apa saja menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya.

Terlepas perdebatan antara aliran Empirisme dan Aliran Nativisme yang manyatakan bahwa perkembangan karakter manusia itu dipengaruhi oleh faktor genetik atau keturunan. William Stem, seorang tokoh pendidikan Jerman yang hidup tahun 1871-1939, menyampaikan penemuannya yang disebut dengan teori Konvergensi. Konvergensi berasal dari kata Convergative yang berarti penyatuan hasil atau kerja sama untuk mencapai suatu hasil.

Aliran Konvergensi merupakan kompromi atau kombinasi dari aliran Nativisme dan Empirisme. Aliran ini berpendapat bahwa anak lahir di dunia ini telah memiliki bakat baik dan buruk, sedangkan perkembangan anak selanjutnya akan dipengaruhi oleh lingkungan, dan kemungkinan-kemungkinan yang dibawa sejak lahir itu merupakan petunjuk-petunjuk nasib manusia yang akan datang dengan ruang permainan. Dalam ruang permainan itulah terletak pendidikan dalam arti yang sangat luas.

Atas dasar itu, yang paling penting adalah kesadaran memahami makhluk lain dari ciptaan Tuhan termasuk kita sesama manusia. Perbedaan pemikiran yang terjadi di antara kita tidak lepas dari latar belakang lingkungan hidup dan pendidikan masing-masing, dan itu merupakan sebuah keniscayaan. Kalau hal itu harus dipaksakan sama, rasanya tidak mungkin, karena dia hidup di mana dan kamu di mana. Memaksa harus sama, sama halnya memindahkan ikan air asin ke air tawar, pasti tidak akan hidup.

Sengaja Tuhan menciptakan perbedaan karakter untuk saling melengkapi, bukan saling menjauhi satu sama lain. Menyadari adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lain, adalah hal yang harus dipelajari; dan bagaimana harus mampu menerimanya. Bukan menolaknya.

Wallahu a'lam!
Sampang, 28 Mei 2017

Gerakan Masyarakat Perangi Politik Uang

Gerakan Masyarakat Perangi Politik Uang

Saya setuju kalau masing-masing calon—melalui timnya—dalam kontestasi Pilkada Pamekasan ini sama-sama meneriakkan katakan "tidak" pada politik uang. Setidaknya, dengan begitu kita melihat sebuah kewarasan yang diperlihatkan oleh masyarakat (baca: tim). Terlepas dari persoalan siapa yang memulai dan mengajak akan hal itu, mau tim atau masyarakat umum, pokoknya hal itu waras. Bagi gue itu penting binggow sebagai sebuah cara memutus mata rantai korupsi.

Kalau mau ditelusuri jejaknya, "Memangnya maling ada jejaknya!" memang ada hubungan kausalitas antara money politik dengan korupsi. Sebab akhirnya, berapa banyak jumlah materi yang keluar waktu kampanye harus berbanding lurus dan bahkan berbanding lebih dengan jumlah materi yang harus masuk kantong setelah terpilih. Maka saya sepakat jika ada ajakan, "ambil uangnya dan pilih orangnya". Ups, maksudnya jangan pilih orangnya.

Dari itu, kewarasan semacam ini harusnya diapresiasi. Jika ada sepasang calon yang bertekad dan beritikad untuk memerangi korupsi, harusnya langkah yang waras bagi kita adalah menghindari nada-nada nyinyir agar tidak terbangun sebuah asumsi kelaziman pada politik uang. Meski tidak menutup kemungkinan yang terpilih tanpa modal sekalipun akan jual beli jabatan di birokrasi. Hal semacam itu bergantung integritas seseorang, bukan pengalaman kerja. Manusia kalau sudah sampai, cenderung lupa pada yang mengantarkan.

Korupsi itu penyakit yang menjangkiti hampir setiap lini masyarakat. Maka dari itu korupsi disebut sebagai kejahatan luar biasa yang membahayakan terhadap masa depan anak bangsa. Kenapa demikian? Karena korupsi menghilangkan kesempatan bagi orang lain untuk hidup lebih baik, yang seharusnya masyarakat mampu menyekolahkan anaknya menjadi tidak mampu. Belum lagi misalnya tidak ada kebijakan subsidi dari pemerintah seperti beasiswa bagi masyarakat kecil, dari itu ketimpangan sosial akan terlampau jauh. Kata, Bang Roma, "Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin".

Korupsi juga bukan satu-satunya disebabkan oleh politik uang. Gaya hidup yang kurang baik juga bisa melahirkan korupsi bagi seorang pejabat. Gaya hidup seperti menumpuk harta kekayaan atau menumpuk benda-benda istimewa lainnya. Yang termasuk dalam golongan istimewa dalam pada ini adalah harta, tahta, dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Ingat, diulang dua kali agar lebih mantap. Dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Kalau boleh meniru perkataan mantan Presiden kita bapak Sby, "saya prihatin" melihat kondisi ini. Dimana kebenaran memperjuangkan kebaikan dianggap sebagai bahan candaan. Melihat cita-cita besar aksi tanggap darurat korupsi ini saya jadi optimis bahwa keadaan akan lebih baik. Insyaallah, maalyakin. Tentu, harus didukung bersama oleh segenap elemen masyarakat, tidak membangun jarak antara pejabat dan masyarakat, dengan bahasa lain harus mampu adaptasi dan berbaur. Buang rasa gengsi di antara kita.

Harapan saya, semoga ke depan kita terhindar dari godaan politik uang yang terkutuk. Ibarat permainan catur, salah satu langkah akan melahirkan kesalahan pada langkah-langkah berikutnya. Salah memberikan suara, maka kerugian pada lima tahun ke depan sudah mengintip di balik tirai jendela. Anda mau tirai satu atau tirai dua? Silahkan pilih dan jangan sampai memilih 'zonk' agar tidak menyesal kemudian.

Kita adalah sahabat apapun pilihannya, jangan lupa untuk senantiasa berbaur.

Pamekasan, 25 Mei 2018

Senin, 21 Mei 2018

Irwan di Antara Para Pembunuhnya

Irwan di Antara Para Pembunuhnya

Bagi para penggemar Irwan, jangan bunuh karakternya dengan cara terlalu mengagungkannya. Kalian telah memberi beban moral yang berat di pundaknya dengan cara seperti itu. Saat ini dia masih dalam tahap perjuangan antara berhasil dan tidak berhasil, kalau dia tidak berhasil dia akan kembali pada sediakala --profesi semula sebagai apapun-- meski tidak dalam waktu dekat.

Sepertinya banyak penggemar Irwan menuntutnya untuk menjauh dari kehidupan biasanya termasuk gaya hidupnya yang dulu. Inilah yang akan menjadi bumerang bagi dirinya. Siapa pun support dia sampai puncak tertinggi, tapi dengan cara yang positif dan tetap ada yang mengingatkan tentang latar belakang kehidupan Irwan agar Irwan tidak tergiring oleh keadaan yang membawa dia pada glamoritas artis ibu kota kekinian.

Pada saat dia sudah merasa menjadi orang penting dan masyarakat sudah mulai jenuh dengan dia yang membuatnya mulai ditinggalkan, kita bisa bayangkan bagaimana dia mau menghadapi kehidupan ini. Gaya hidupnya sudah dia ubah dan materi semakin menipis, sisi lain tertuntut mempertahankan prestisenya. Pertanyaannya, apakah anda tidak kasihan kepadanya?

Saya himbau, jangan bunuh dia secara perlahan, selain kondisi tenar yang dia nikmati dia harus diingatkan pula bagaimana dia tetap mampu membawa dirinya agar tidak jumawa dalam kondisi itu, saya melihatnya masih polos yang cenderung bisa dibawa kemana saja termasuk kepentingan kelompok yang mulai mendekatinya.

Kalau di antara pembaca ada keluarga dia, ingatkanlah.

Intermizo dengan segelas kopi.
Pamekasan, 11 Mei 2015

20 Mei 2015 Sebagai Gerakan Sporadis Mahasiswa

20 Mei 2015 Sebagai Gerakan Sporadis Mahasiswa

Selama ini mahasiswa bergerak di atas pemikiran–kesejahteraan rakyat—yang sama dan merespon setiap kebijakan pemerintah dengan cara yang sama pula, baik itu gerakan persuasive atau gerakan turun jalan. Kali ini publik dikejutkan dengan tontonan yang kontras dalam gerakan mahasiswa, ketika melihat gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa itu tidak sama antara yang satu dengan lainnya yaitu berjalan sendiri-sendiri. Ada yang memilih makan malam bersama Bapak Presiden ada pula yang memilih mengepung istana. Hal ini akan dibaca sebagai sebuah bentuk kelemahan mahasiswa dalam mengawal kebijakan pemerintah.

Adanya beberapa gerakan yang dilakukan oleh bapak Presiden untuk menggembosi gerakan mahasiswa seperti melakukan pertemuan dengan aktivis lintas generasi, bukan sebuah bentuk kecerdasan bapak Presiden dalam merespon gerakan yang akan dilakukan oleh mahasiswa, tetapi ini merupakan bentuk kebodohan dari mahasiswa. Presiden telah menyelamatkan diri dengan cara membaca kebutuhan mahasiswa disebabkan kecenderungan pragmatisme yang terjadi di kalangan mahasiswa.

Adanya beberapa mahasiswa yang mendekat kepada kekuasaan dengan tujuan keuntungan pribadi mampu ditangkap dengan baik oleh presiden.
Atas nama ketidakkompakan yang terjadi pada gerakan mahasiswa mengakibatkan antara yang satu dengan yang lain saling menggiring opini pembenaran terhadap langkah yang dilakukan. Seperti yang terjadi antara Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Bung Karno dengan BEM se-UI.

Statement pembenaran yang disampaikan oleh koordinator  BEM se-UI kenapa mereka menerima untuk makan malam bersama presiden, ”Bagi saya, aksi dan perlawanan itu tidak boleh dibatasi hanya dengan turun ke jalan. Hadirnya saya ke forum dengan presiden juga saya niatkan sebagai bagian dari aksi dan advokasi mahasiswa untuk menyampaikan langsung apa yang menjadi keresahan masyarakat. Saya pastikan bahwa apa yang saya lakukan adalah tetap dalam koridor gerakan moral dan intelektual. Ini hanya masalah pilihan gerakan (choice of movement) apa yang mau kita gunakan. Bertemu langsung kah? Atau terus menerus berada di jalanan?”.

Ada pernyataan lain yang disampaikan oleh Koordinator BEM se-UI yaitu “Besok, Kamis, 21 Mei 2015 (hari ini-ed), Pukul 10.00 BEM UI akan bergabung dengan ribuan massa mahasiswa di depan Istana Negara. Saya sudah mendapatkan konfirmasi dari Kordinator Pusat BEM SI akan hadirnya ribuan massa di depan Istana esok. Saya undang seluruh rakyat yang masih peduli akan hadirnya kesejahteraan yang lebih baik, untuk hadir bersama kami mahasiswa.” Inilah bagian tidak cerdas dari BEM UI, pada moment yang sama dia mengambil dua sikap dan pernyataan yang tidak konsisten.

Ada dua pernyataan yang bertentangan sebenarnya apa yang disampaikan BEM UI itu, yang pertama menyampaikan bahwa mereka menggunakan pendekatan yang berbeda karena substansinya adalah gerakan perjuangan, tapi sisi lain masih menyampaikan mau turun bersama tanggal 21 mei 2015. Pertanyaannya buat apa mereka turun kalau sudah bertemu dengan pemilik kebijakan, bukankah aspirasi mereka sudah disampaikan.

Belum lagi hujatan yang dilayangkan oleh Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Bung Karno (UBK), mereka mengecam kehadiran para mahasiswa yang diundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu tersebut, mereka menuding bahwa apa yang dilakukan oleh BEM UI sebagai “pelacur Intelektual”. Beberapa mahasiswa yang mengambil sikap turun jalan adalah Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Bung Karno dan banyak dari elemen mahasiswa lainnya.

Adanya keberagaman gerakan di antara mahasiswa ini sah-sah saja, yang terpenting dalam gerakan yang diambil mempunyai orientasi yang jelas dan tidak tendensius. Meski sebenarnya gerakan sporadis yang terjadi ini akan membangun kesan bahwa nilai tawar dan sakralitas gerakan yang selama ini ditakuti oleh penguasa sudah tidak ada lagi.

Evaluasi gerakan harus tetap dilakukan oleh para mahasiswa selama Negari ini ada. Baik gerakan pemikiran atau pun gerakan jalanan. Perubahan yang lebih baik masih menjadi cita-cita bangsa Indonesia, mahasiswa harus hati-hati mengambil sikap karena kelak beban bangsa ini ada di pundak kita sekalian. Kepentingan pribadi harus dikesampingkan dan lebih mengedepankan kepentingan rakyat. Selama ini kekuatan mahasiswa sudah mampu menumbangkan rezim, jangan lupa itu.

Pamekasan, 22 Mei 2015