This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 30 Maret 2018

Alam Bawah Tanah, Alam Bawah Sadar dan Analogi Sederhana

Alam Bawah Tanah, Alam Bawah Sadar dan Analogi Sederhana

Berbicara alam bawah tanah (akhirat) memang sesuatu yang abstrak. Karena tidak ada satu orang pun yang bisa mendeskripsikan dengan data analisis untuk memberikan keterangan konkrit perihal keberadaannya. Tetapi, kita masih bisa menggunakan pendekatan tertentu untuk setidaknya mendapatkan sebuah gambaran meski tidak segamblang realitas yang sering kita jumpai dalam kihidupan kita sehari-hari.

Membicarakan akhirat kita tidak berbicara natural tetapi berbicara supra-natural tidak juga berbicara tentang fisik tetapi tentang meta-fisik. Akan tetapi kita masih bisa mempunyai ruang untuk memahami hal itu dengan pendekatan tertentu seperti pendekatan analogis.

Dalam hal ini penulis menggunakan pendekatan mimpi dalam tulisan ini.
Tidur merupakan proses masa istirahatnya tubuh dan urat saraf manusia. Mata yang letih, anggota badan yang terlalu capai atau kekenyangan dengan mudah merangsang rasa kantuk dan akhirnya tertidur lelap. Dalam tidur sering muncul mimpi, padahal realitasnya orang yang sedang tidur berada di bawah alam sadar, bahkan tidur sama dengan mati sebentar, sedangkan mati sama dengan tidur yang panjang.

Lalu, kenapa orang yang berada di alam bawah sadar bisa bermimpi? Apakah mimpi itu realitas atau khayalan? Tentu saja, orang yang sedang tidur tidak bisa berkhayal. Dengan demikian, mimpi merupakan realitas yang dialami orang yang berada di alam bawah sadar. Apabila seseorang bermimpi dikejar-kejar setan, ada orang yang dalam mimpinya benar-benar ketakutan, tidurnya terlihat gelisah dan berteriak-teriak histeris. Ketika terbangun dari tidurnya, napasnya tersengal-sengal seperti baru saja dikejar anjing galak. Jika ditanya, apa yang terjadi? Dia akan menjawab, “Aku bermimpi dikejar setan.”

Secara filosofis, jika mimpi buruk cukup menyiksa orang yang sedang tidur, apalagi jika orang yang tidur panjang (mati) setiap hari bermimpi dikejar dosa yang menjadi penyebab ia disiksa atau bahkan itu sudah menjadi bagian dari siksaan itu sendiri. Setiap hari mimpi menyeramkan menghantuinya, maka setiap hari ia akan tersiksa di alam barzah, sedangkan masa kebangkitan di alam kubur masih sangat lama dan hari-hari pun tidak ada yang tahu. Maka, wajar apabila orang yang sudah meninggal itu tinggal tulang belulang bagi yang terlalu banyak dosa, karena setiap hari selalu dikejar-kejar.

Deskripsi tersebut memberikan pandangan kepada kita bahwa sesungguhnya mimpi itu adalah realitas alam bawah sadar. Mimpi tersebut sangat nyata meski tidak melibatkan faktor-faktor fisik dalam kejadian itu, disebut sangat nyata karenak seandainya kita tidak bangun maka mimpi itu merupakan kehidupannya seperti kehidupan yang kita rasakan saat ini. Kita akan sulit sekali sebenarnya untuk membedakan antara mimpi dengan yang bukan mimpi, karena jangan-jangan hari ini kita sedang bermimpi.

Bukan tidak mungkin seandainya lebih banyak tidur manusia dengan kuantitas yang cukup intens, tentu kita akan menilai bahwa kehidupan yang kita jalani adalah mimpi. Harapannya semoga mimpi kita selalu indah hingga tiba di hari akhir kelak. Amin…

Wallahu alam!

Pamekasan, 30 Maret 2018

Rabu, 28 Maret 2018

Kaum Muda dan andil Pelestarian Budaya

Kaum Muda dan andil Pelestarian Budaya
Menyoal kecenderungan kaum muda yang larut dengan kebudayaan barat dalam konteks kekinian
Oleh: Musannan*

Kaum muda adalah aset bangsa yang mempunyai andil besar terhadap keberlanjutan dan maju mendurnya sebuah bangsa. Kenapa kaum muda, karena kaum mudalah generasi yang akan melanjutkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga atas dasar itulah, bagaimana mulai saat ini, kaum muda mampu mempertahankan elemen penting dalam sistem kehidupan berbangsa dan bernegara itu, dan elemen penting itu adalah kebudayaan.

Cakupan kebudayaan sangat luas dan hampir meliputi semua unsur dalam kehidupan, karena budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Bila demikian adanya dapat ditarik sebuah konklusi bahwa kadar intelektual suatu bangsa ditentukan oleh seberapa jauh kebudayaan bangsa itu sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah apakah bangsa Indonesia mempunyai nilai kebudayaan yang rendah yang mengakibatkan bangsa ini jauh tertinggal dibandingkan dengan Negara lain kebanyakan. Tentu jawabannya adalah tidak. Karena, pertanyaan yang sebenarnya adalah seberapa jauh bangsa kita selama ini mempertahankan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kebudayaan itu sendiri. Apabila jawabannya setengah hati, jangan salah apabila kecerdasan bangsa ini hanya setengah-setengah.

Nah, disinilah peran kaum muda muncul, bagaimana kaum muda membulatkan tekat untuk mengembalikan citra bangsa dengan cara merampungkan kembali situs-situs kebudayaan bangsa dan kemudian difahami secara komprehensif serta diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Disadari atau tidak, budaya merupakan identitas bangsa. Maka dari itulah bagaimana kita sebagai bangsa utamanya kaum muda berperilaku layaknya budaya orang ketimuran yang syarat dengan norma-norma, jangan sampai kabur dan tidak mampu dibedakan antara kita dan bangsa lain. Justeru sebaliknya bagaimana kaum muda mampu melestarikan dan mampu bersaing dalam era globalisasi saat ini, dan membawa orang bertekuk lutut dan mengakui bahwa budaya kita adalah budaya yang layak untuk diapresiasi.

Menyikapi kecenderungan kaum muda yang kerap bersinggungan dengan budaya menjadi persoalan yang sepantasnya mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Hal ini masuk kepada langkah antisipatif, yang tidak lepas peran beberapa pihak baik struktur pemerintah atau tokoh-tokoh Masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk mentransfer keilmuan di bidang kebudayaan, agar kaum muda tidak menjadi orang lain di Negaranya sendiri.

Budaya barat atau western culture yang masuk tanpa filterisasi sangat berpengaruh negatif terhadap bangsa terutama terhadap kaum muda. Utamanya perilaku dari berpenampilan, pola makan, dan kesenangan. Dan perlu disampaikan hal itu merupakan agenda besar yang terselubung yang sengaja akan dicekokan kepada bangsa kita utamanya kaum muda sebagai generasi bangsa.

Orientasi terselubung ini terbaca pada saat didengungkannya globalisasi, yang tentu tidak perlu dijalaskan apa itu globalisasi, negara barat utamanya amerika akan melakukan penyeragaman kebudayaan yang dilakukan secara bertahap, yang ending-nya kita mengikuti pola-pola yang dilakukan barat. Bila hal itu terjadi anak cucu kita tidak tahu warisan asli dari pada moyangnya.

Ancaman tersebut tidak hanya sebatas itu, lambat laun arus budaya barat itu akan mengurangi nasionalisme bangsa, sebelum akhirnya hilang sama sekali.

Meski tidak dapat dipungkiri adanya ilmu teknologi akan sangat cepat memberikan kabar tentang budaya barat, tetapi sebaliknya yang harus dilakukan bagaimana justeru kita mampu memanfaatan teknologi itu sendiri sebagai sarana balik untuk mempublikasikan budaya bangsa. Apakakah dengan tidak meniru kebudayaan orang lain dianggap tertinggal. Tentu tidak.

Kita harus mengaca pada orang-orang China bagaimana mempertahankan budayanya. Budaya seperti barongsai tetap bertahan dan Aksara Cina yang tetap terjaga. Kemudian, apakah orang-orang China dianggap tertinggal dalam bidang ekonomi dan teknologi. Kita bisa menjawabnya sendiri.

Wallahu a'lam...

*Penulis adalah kaum muda pemerhati budaya.

Pamekasan, 29 Maret 2012

Pro-kontra Kebijakan Pemerintah

Pro-kontra Kebijakan Pemerintah
Refleksi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak anatara maslahat dan mudorat
Oleh: Musannan*

Kebijakan pemerintah terhadap kenaikan Bahan Bakar Minyak telah menuai pro dan kontra dengan berbagai macam alasan. Sebagian masyarakat mangklaim kebijakan tersebut tidak berpihak kepada masyarakat kacil, karena dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak tersebut, maka semua bahan pokok kebutuhan masyarakat akan naik.

Pemerintah mempunyai alasan sendiri kenapa harga Bahan Bakar Minyak tersebut harus naik. Alasan yang disampaikan pemerintah di media adalah untuk menyelamatkan perekonomian Nasional disebabkan harga minyak dunia naik. Lain dari itu pemerintah juga memberikan alasan bahwa subsidi yang biasa dialokasikan melalui Bahan Bakar Minyak tersebut akan diberikan secara langsung kepada masyarakat berupa Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).

Kemudian muncul persepsi lain berkenaan dengan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang dicanangkan pemerintah. Bahwa hal itu adalah sebuah bentuk pembodohan kepada rakyat dan sama halnya mengajari rakyat menjadi pengemis.

Yang lebih parah lagi asumsi masyarakat berkenaan dengan naiknya harga Bahan Bahan Minyak tersebut adalah mengalihan dari kasus-kasus korupsi yang sedang menimpa kader demokrat di parlemen. Yang dimaksud adalah Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum dan Nazaruddin yang sampai saat ini masih sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi wisma atlet.

Analisis kebijakan pemerintah itu memang penting untuk dilakukan, akan tetapi harus dilakukan tanpa adanya unsur kepentingan dari pihak manapun. Naif sekali apabila masyarakat melakukan justifikasi terhadap kebijakan tanpa pengetahuan dan hanya ikut-ikutan pihak tertentu yang mempunyai kepentingan, apa lagi kepentingan secara politis, artinya bahwa kita terjebak dengan kepentingan orang lain atau pun kelompok tertentu.

Tetapi bagaimana pun alasan kebijakan pemerintah yang mengatasnamakan rakyat, apabila kebijakan tersebut tidak diterima oleh rakyat maka tidak harus dipaksakan, karena masyarakat jualah yang akan menerima dampak dari kebijakan tersebut. Pemerintah harus mengacu pada prinsip-prinsip demokrasi yaitu "dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat".

Terlepas dari persoalan itu menurut hemat penulis kesalahan pemerintah dalam kebijakan ini adalah "pemerintah tidak memberikan kail, akan tetapi memberikan ikan". Maknanya adalah dalam hal ini pemerintah memberikan bantuan secara langsung berupa uang dan tidak memberikan lahan pekerjaan kepada masyarakat yang memungkinkan lebih bertahan lebih lama hidup daripada pemberian uang tersebut.

Selain itu kebijakan ini tidak memberikan nilai pencerdasan dan kreatifitas terhadap bangsa, dengan kata lain kita sebagai bangsa hanya diajari diam dan menerima bantuan tanpa menggunakan akal dan pikiran. Kefakuman pola pikir masyarakat inilah juga memberikan akhir yang tidak baik terhadap perkembangan ekonomi bangsa.

*Penulis adalah masyarakat yang berusaha menyalurkan aspirasi dengan jalan seperti ini.

Pamekasan, 28 Maret 2012

Selasa, 27 Maret 2018

Pos Kamling dan Kedaulatan Desa

Pos Kamling dan Kedaulatan Desa

Desaku kini tak ramah lagi. Tidak ramah yang dimaksud bukan disebabkan oleh tanah atau tempat tinggal masyarakat; seperti longsor dan lainnya. Tetapi lebih disebabkan oleh beberapa orang tidak bertanggung jawab yang menjadi pengganggu di desa. Orang yang membuat resah penduduk desa, mengganggu keamanan dan kenyamanan warga desa.

Tadi malam, (27/03) persisnya jam 03:±-menurut informasi-ada burung (jalak) tetangga yang hilang. Beberapa hari sebelumnya, handphone (HP) tetangga saya juga hilang, termasuk dua sarung BHS milik orang tua saya.

Agak jauh dari tempat tinggal saya (masih di kampung yang sama) burung cinta (love bird) atau yang sering orang kampung sebut labhet dan beberapa sak gabah juga dibawa orang. Selain tersebut di atas tentu masih banyak lagi kasus lainnnya yang serupa, meski tidak sama di bagian kampung yang lain. "Waspadalah, waspadalah! Pencurian bukan hanya karena adanya niat pelakunya, tetapi juga adanya kesempatan".

Karakter manusia memang beragam dan tidak mungkin bisa diseragamkan. Ada manusia yang baik, dan juga jahat. Maka atas nama keanekaragaman karakter ini, kita sebagai manusia harus menyadari, memahami dan bahu membahu untuk menanggulangi kemungkinan yang akan terjadi. Kemungkinan manusia jahat yang malas bekerja dan hanya suka dengan harta milik orang lain.

Untuk mengatasi kejahatan seperti pencurian, memang tidak cukup diatasi melalui mimbar pengajian, tetapi di sisi lain juga harus melalui penjagaan yang ketat dari segenap masyarakat desa. Untuk menghemat tenaga, penjagaan bisa dilakukan secara bergantian oleh masyarakat setempat.

Pengamanan yang sementara bisa dilakukan adalah pos keamanan keliling (kamling). Konsepnya, secara bergantian masyarakat bisa ronda malam dengan cara diberi jadwal. Setiap pos disediakan kentungan (baca: tongtong) yang ditabuh setiap jam sekali, untuk memastikan penjaga pos tidak tidur. Jika ada yang mencurigakan, kentungan bisa ditabuh sesering mungkin, sebagai bentuk antisipasi kemungkinan terjadinya kejahatan.

Pos kamling bisa dibuat dibeberapa dusun, perdusun satu atau bisa lebih. Pos kamling tergantung luasan kampung, dan posisi pos kamling diupayakan dibuat di jalan masuk desa agar mudah mengidentifikasi orang luar yang masuk desa. Sehingga setiap kejadian lebih mudah ditelusuri.

Kejadian seperti ini sebenarnya menuntut untuk segera diatasi. Jika dalam waktu yang lama tidak segera diatasi maka kita sebagai warga desa yang berdaulat akan senantiasa disepelekan oleh pihak lain. Tidak hanya itu, hal itu juga untuk mengurangi kecurigaan satu sama lain.

Kerjasama pemerintahan desa dengan masyarakat harus dibangun. Hal-hal yang terjadi di desa sebenarnya bukan semata-mata tanggung jawab pemerintahan desa, tetapi tugas setiap orang yang ada di desa itu. Karena jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kita sendiri yang rugi. Pemerintah desa hanya bisa memfasilitasi selebihnya masyarakat yang memaksimalkan pemanfaatannya. Dalam artian, pemerintah desa menyediakan pos kamling, dan masyarakat yang melakukan penjagaan.

Mari, jaga lingkungan kita dari segala tindak kejahatan, jaga selalu lingkungan agar tetap aman, nyaman, dan kondusif.

Pamekasan, 27 Maret 2018

Usia dan Produktivitas yang Rendah

Usia dan Produktivitas yang Rendah

Dulu, ke utara rumah saya ada pohon mangga besar. Saya melihat betapa ia sangat lelah menjalani hari-harinya sejak dulu. Pohon yang dulu gagah dengan buah yang banyak, daun yang rindang, kini sudah mulai tidak produktif (baca: tidak berbuah) dan bahkan dikerumuni semut di sepanjang batang, dahan dan rantingnya. Kalau pun berbuah, ada beberapa saja itupun belah dan busuk di atas, orang Madura menyebutnya "asah".

Jalan satu-satunya agar lebih bermanfaat adalah ditebang dan dijadikan bahan bakar. Mau apa lagi? Dijadikan tempat berteduh tidak bisa, diharapkan buahnya tidak memungkinkan, yang ada hanya membahayakan karena dahannya sudah lapuk, belum lagi semut yang setiap saat mengintai untuk menggigit. Yang paling menakutkan kalau ada angin besar.

Memang iya, yang paling bagus untuk kelas pohon besar berbuah itu, yang sedang-sedang saja. Umurnya tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda, kira-kira sama dengan perasaan itulah: tidak terlalu cinta dan tidak terlalu benci. Dalam kondisi itu buahnya bagus dan pohonnya masih gagah. Karena yang serba terlalu itu memang tidak baik.

Masih ingat dengan istilah "reboisasi" pelajaran waktu Sekolah Dasar? Kenapa harus ada reboisasi? Intinya, reboisasi itu adalah penanaman kembali pohon yang sudah ditebang (karena tua) dengan maksud adanya proses regenerasi. Dalam rangka penyelamatan dan maksimalitas fungsi sumber daya alam (SDA). Mari, galakkan reboisasi untuk mengganti pohon yang sudah ditebang!

Dalam kehidupan manusia pun harusnya juga begitu. Suatu malam yang dingin, pernah berpapasan dengan seorang bapak yang sudah sepuh sekali mengayuh becak. Dalam pikiran bertanya, "Kemana anak bapak tua ini? Apakah bapak tua ini punya anak? Kenapa sesepuh dia masih bekerja?" Untuk saat ini, harusnya bapak ini sudah pensiun dan urusan makan sudah ada anaknya yang manggung yang masih punya tenaga kuat. Jadi, tidak harus memaksakan diri untuk bekerja.

Lain pohon, lain manusia; lain juga kapal dan pesawat. Beberapa hari yang lalu, ada kapal milik TNI yang tenggelam. Dimungkinkan penyebabnya usia kapal yang sudah terlalu tua. Kapal yang seharusnya dikandaskan masih dioperasikan. Tenggelam deh. Belum jumlah pesawat yang jatuh yang ditengarai karena usianya yang sudah tua, seharusnya dimuseumkan masih dipakai. Tapi itulah Indonesia. Beberapa orang kadang masih suka dengan yang gitu-gitu.

Akhirnya, saya teringat, Cak Imin dengan Jaman Nownya; teringat pula Arofik dan Bang Rhoma dengan celana komprangnya. Membayangkan dua situasi itu rasanya lucu, seandainya untuk saat ini masih ada orang yang mau pakai komprang ala Arofik dengan kerah seperti orang yang hendak terbang. Memang setiap sesuatu ada jamannya, dan setiap jaman ada sesuatunya. Jadi, jangan pakai sesuatu yang bukan jamannya, biar sesuai dengan jaman.

Wallahu a'lam!

Sampang, 23 Maret 2018

Maklumat Ini Asli

Maklumat Ini Asli

Beberapa hari lalu ada surat edaran yang dikeluarkan oleh Pondok Pesantren Sidogiri. Isi surat tersebut menginstruksikan bahwa pada Pilkada 27 Juni mendatang para santri pondok pesantren Sidogiri yang ada di Pamekasan memilih pasangan Berbaur. Kenapa harus berbaur, hanya beliau yang tahu.

Dengan beredarnya maklumat dimaksud, beberapa pihak menyanksikan terhadap surat itu, dan bahkan beberapa pihak berani mengolok-olok seolah-olah surat itu palsu. Seharusnya sebelum menyerang surat itu, terlebih dahulu ada klarifikasi untuk memastikan kebenarannya. Sebab, jika ternyata surat itu benar, maka secara tidak langsung telah mengolok beliau yang menulis surat. Meski memang disadari bahwa upaya itu untuk mengaburkan isi dari surat dimaksud.

Bukankah mengedarkan maklumat yang tidak benar itu beresiko sekali? Jangankan untuk pondok pesantren besar seperti Sidogiri, siapapun pihak yang tanda tangannya dicatut untuk kepentingan kelompok atau pribadi, itu sebuah pelanggaran. Semua orang tahu bahwa memalsukan tanda tangan sangat dekat dengan jeruji besi, apalagi yang dipalsu sekelas Kiyai pondok pesantren besar seperti Sidogiri yang santrinya sudah jutaan dan tersebar di seluruh Indonesia.

Sebagian pihak ada yang mengatakan bahwa hal itu hanya merupakan bentuk dukungan belaka. Iya, dukungan yang hanya diberikan kepada salah satu pasangan calon saja. Artinya, bahwa dukungan itu atas pilihan dari yang terbaik dan tidak semua kontestan mendapatkan dukungan yang sama. Kalau tidak percaya, silahkan coba keberuntungannya, siapa tahu anda beruntung.

Ada pula yang menyanksikan karena ditulis dengan menggunakan komputer. Substansi dari sebuah tulisan itu bukan alat tulisnya, tapi pesannya. Mau ditulis pakai spidol, atau kapur dan bahkan arang sama saja, yang terpenting pesannya sampai. Ayolah, jangan mempermainkan pesan ulama!

Tetapi saya menaruh hormat kepada segenap santri Sidogiri. Atas ketakdziman kepada gurunya, tidak melihat satupun santri Sidogiri yang berusaha mempertanyakan isi surat itu, apalagi menyerang. Karena kebanyakan dari mereka tahu bahwa menyanksikan hal itu adalah perbuatan yang tidak sopan dalam kacamata santri; mereka tahu bahwa maklumat itu memang adanya dari gurunya.

Yang jelas, untuk urusan surat ini pasti sudah ada yang klarifikasi. Karena santri Sidogiri tidak mungkin membiarkan keberadaan surat instruksi ini liar. Dan untuk saat ini semua santri Sidogiri sudah tahu kebenaran surat dimaksud. Tinggal melihat seberapa jauh bentuk kepedulian meraka kepada guru dan pesantrennya. Insyaallah, mereka semua akan patuh atas perintah itu.

Sebenarnya posisi dukungan pesantren Sidogiri kepada Berbaur itu sama saja dengan dukungan beberapa ulama kepada pasangan kholifah. Tidak perlu dirisaukan sebagaimana berbaur tidak risau.

Wallahu alam!

Pamekasan, 22 Maret 2018

Selasa, 20 Maret 2018

NU dari Madura untuk Indonesia

NU dari Madura untuk Indonesia

Di bagian barat pulau Madura ada sebuah kabupaten yang bernama Bangkalan. Berbicara Bangkalan, ini memang tidak lepas dari adanya makam seorang ulama yang dipercaya sebagai seorang wali. Beliau adalah Syaikh Kholil bin Abdul Latif, yang makamnya setiap hari dipenuhi oleh para peziarah, baik yang datang dari pulau Madura sendiri atau di luar Madura.

Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai ulama kharismatik kelahiran Madura, ternyata sebelum meninggal, sempat mewariskan sebuah organisasi besar sebagai cikal bakal pembela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah melakukan istikharah, beliau menyuruh salah satu muridnya yang bernama As'ad (pada masa itu) untuk mengantarkan sebuah tongkat dan bacaan ayat al-Quran surat toha ayat 17-23, kepada murid beliau juga yang ada di Jombang.

Atas nama legitimasi dari beliau, murid beliau yang--berada di Jombang--bernama Hasyim Asy'ari itu mendeklarasikan organisasi yang sudah mendapatkan restu itu. Organisasi itu kemudian diresmikan di Surabaya pada tanggal 31 Desember 1926, bertepatan dengan tanggal 16 Rajab 1344 H. dengan nama Nahdlatul Ulama (NU). Kemudian Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari atau yang biasa disebut Mbah Hasyim disebut sebagai pendirinya.

Lantas, murid yang bernama As'ad itu siapa? Beliau adalah KHR. As'ad Syamsul Arifin (lahir pada tahun 1897 di Mekah-meninggal 04 Agustus 1990 di Situbondo pada umur 93 tahun) pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Ia adalah ulama besar sekaligus tokoh dari Nahdlatul Ulama dengan jabatan terakhir sebagai Dewan Penasihat (Musytasar) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hingga akhir hayatnya. Yang beberapa tahun terakhir dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Demikian, sekilas tentang sosok seorang As'ad.

Apakah berlebihan sekiranya dikatakan Madura sebagai pulau NU? Saya kira tidak. Sebab, tokoh inisiator yang menjadikan NU sebagai organisasi ini adalah seorang ulama yang oleh mayoritas orang Madura tidak diragukan lagi kealimannya. Pada saat masyarakat Madura bersepakat dengan kewalian dan kealiman beliau, maka otomatis masyarakat Madura juga sepaham dengan alur pemikiran beliau, termasuk berdirinya NU ini.

Pada saat yang bersamaan dengan diresmikannya NU, ada ulama yang membawanya ke Pamekasan. Beliau adalah KH. Sirojuddin Bettet dan KH. Badruddin Panyeppen. KH. Siroj (panggilan KH. Sirojuddin) sebagai Rais Syuriah dan KH. Badruddin sebagai Ketua Tanfidz-nya. Yang berarti beliau berdua sebagai pimpinan NU pertama di kabupaten Pamekasan.

KH. Sirojuddin ini seangkatan dengan KH. Rofi'i (Sumber Anom) dan Mbah Wachab waktu ngaji ke Mbah Machfud al-Termasi di Makkah. Itu artinya para beliau bukan hanya ngaji bersama, tetapi juga punya kesepahaman dalam membesarkan NU. Hingga sampai saat ini anak cucu beliau masih berkhidmat di NU.

Ketika membicarakan nama beliau, nama beliau senantiasa disandingkan dengan NU. Pertama, KH. Sirajuddin adalah pendiri PP. Miftahul Ulum Bettet. Untuk para santri dari beliau tidak usah khawatir sesat berkhidmat di NU, sudah ada beliau yang mendahuluinya. Termasuk santri (tak langsung) KH. Badruddin pengasuh PP. Miftahul Ulum Panyeppen, beliau adalah NU tulen dari dulu sampai sekarang.

Saya sebagai murid tidak langsung dari beliau (KH. Sirajuddin) bangga berada dalam satu haluan bersama beliau. Tidak hanya saya, pun orang tua saya dari dulu memegang teguh warisan organisasi dengan ideologi Ahlus sunnah wal jamaah ini, dari para leluhur (baca: kakek & nenek).  Tentu, hal ini juga disebabkan tokoh masyarakat setempat yang sudah lebih dulu mengamalkan nilai-nilai yang tertanam dalam Nahdlatul ulama.

Semoga menjelang Harlah Nahdlatul Ulama beberapa hari ke depan, NU tetap berkontribusi dalam bidang sosial keagamaan bagi nusa dan bangsa, utamanya dalam menjaga NKRI.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 20 Maret 2018